DENPASAR-fajarbali.com | Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, membuka Lomba Layang-Layang Mel Tanjung Kite Festival (MTKF) XVII Tahun 2026 dengan menarik layangan di Kawasan Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, Minggu (9/8).
Kegiatan yang digelar ST. Eka Dharma, Banjar Tanjung, Desa Sanur Kauh ini menjadi wadah pelestarian tradisi melayangan sekaligus ruang ekspresi kreativitas budaya bagi para pelayang atau rare angon di Bali, khususnya Kota Denpasar.
Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar yang juga selaku Pembina Mel Tanjung Kite Festival, I Wayan Mariyana Wandhira, Anggota DPRD Provinsi Bali, AA Gede Agung Suyoga, Camat Denpasar Selatan, Ida Bagus Made Purwanasara, Perbekel Desa Sanur Kauh, I Made Ada, Bendesa Adat Intaran, I Gusti Agung Alit Kencana, serta undangan lainnya.
Suasana lomba tampak semarak dengan para peserta yang sibuk mempersiapkan layangan untuk diterbangkan. Usai membuka kegiatan secara resmi, Wakil Wali Kota Arya Wibawa turut menyaksikan jalannya perlombaan yang diawali dengan seri Layangan Tradisional Janggan Remaja. Meski kondisi angin belum berhembus secara optimal, para pelayang tetap menunjukkan strategi dan keterampilan dalam mempertahankan layangan agar tetap mengudara.
Pembina Mel Tanjung Kite Festival, I Wayan Mariyana Wandhira, didampingi Ketua Panitia, I Made Gde Jisnu Bajasangga Wandhira, mengatakan MTKF XVII Tahun 2026 mengusung tema “Bhumi Samudra Akasa Sanggama” yang bermakna keharmonisan antara darat, laut, dan udara sebagai fondasi lahir dan lestarinya budaya dari generasi ke generasi.
“Pelaksanaan kegiatan ini merupakan wahana untuk memberikan ruang gerak kepada para pelayang agar dalam bermain layangan tetap mengedepankan rasa tanggung jawab serta meningkatkan rasa kebersamaan di antara generasi muda dan masyarakat pelayang pada khususnya,” ujarnya.
Wandhira mengatakan, lomba tahun ini menghadirkan kategori remaja dan dewasa dengan beragam jenis layangan tradisional maupun kreasi. Di antaranya Layangan Tradisional Bebean, Bebean Big Size, Janggan, Janggan Buntut, Janggan Buntut Big Size, Pecuk, hingga seri khusus layangan mini. Khusus layangan tradisional, peserta diwajibkan menggunakan kain dengan corak warna Bali, yakni merah, kuning, hitam, dan putih. Selain itu, turut diperlombakan seri layangan plastik, layangan celepuk, dan layangan mini size.
“Peserta tahun ini berasal dari sekaa, klub, maupun perorangan, dengan jumlah mencapai 1.685 layangan dari berbagai jenis tradisional dan kreasi. Semoga kegiatan yang digelar selama tiga hari ini berjalan lancar sebagai upaya melestarikan tradisi melayangan sekaligus memberikan ruang ekspresi bagi rare angon. Yang terpenting, dalam 17 tahun perjalanan Mel Tanjung Kite Festival, kami berkomitmen untuk terus profesional dan meningkatkan kualitas kegiatan setiap tahunnya,” ucapnya.
Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, memberikan apresiasi atas pelaksanaan MTKF XVII Tahun 2026. Menurutnya, kegiatan yang telah menjadi agenda rutin tahunan tersebut memiliki peran penting dalam mendukung pelestarian seni dan tradisi melayangan di Kota Denpasar.
Arya Wibawa menegaskan, Pemerintah Kota Denpasar, baik secara kelembagaan maupun dirinya secara pribadi, terus berkomitmen mendukung pelestarian tradisi melayangan. Selain menjadi wadah kreativitas masyarakat, melayangan juga dapat menjadi wahana hiburan sekaligus atraksi budaya yang mendukung keberlangsungan pariwisata berbasis budaya di Bali, khususnya Kota Denpasar.
“Kami sangat mendukung dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini sebagai wahana ekspresi dan kreativitas budaya bagi para pelayang yang dikenal sebagai rare angon. Layang-layang tradisional merupakan salah satu potensi budaya masyarakat yang memiliki ciri dan keunikan tersendiri. Tradisi ini juga mendorong munculnya kreativitas dan inovasi baru yang bermuara pada kelestarian budaya serta mendukung kemajuan pariwisata berbasis budaya,” ujar Arya Wibawa.
Diharapkan, pelaksanaan MTKF dapat terus berkembang secara konsisten dari tahun ke tahun, tidak hanya dari sisi penyelenggaraan dan kualitas perlombaan, tetapi juga dalam memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan tradisi melayangan sebagai bagian dari kekayaan budaya Bali. (Car)










