Masuk Kalender KEN 2026, Jatiluwih Festival Sukses Padukan Tradisi dan Kelestarian Alam

IMG_1419
Penyerahan piagam penghargaan untuk Jatiluwih Festival yang masuk ke dalam KEN 2026 dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia yang diserahkan oleh Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya kepada Ketua Panitia sekaligus Manajer DTW Jatiluwih, John K. Purna.

TABANAN-fajarbali.com | Kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih di Kabupaten Tabanan kembali berdenyut lewat gelaran Jatiluwih Festival VII yang resmi dibuka pada Sabtu (20/6/2026). Mengusung tema “In Balance with Nature, Inspired by Tradition”, festival tahunan ini dirancang bukan sekadar sebagai ajang hiburan, melainkan sebagai manifestasi nyata untuk menjaga keseimbangan antara ekologi, kebudayaan, dan kesejahteraan masyarakat lokal di tengah laju modernisasi pariwisata.

Penyelenggaraan tahun ini terasa sangat spesial karena untuk pertama kalinya festival ini berhasil menembus daftar bergengsi Pencapaian ini menjadi tonggak sejarah baru yang menegaskan bahwa pelestarian berbasis komunitas di Jatiluwih diakui secara nasional. Rangkaian acara yang berlangsung selama dua hari (20–21 Juni 2026) tersebut mengintegrasikan promosi budaya tradisional, penguatan ekonomi berbasis UMKM, dan kepedulian lingkungan.

Ketua Panitia sekaligus Manajer DTW Jatiluwih, John K. Purna, menyatakan bahwa esensi festival ini adalah memastikan pariwisata berjalan beriringan dengan warisan leluhur. Selain berstatus Warisan Budaya Dunia UNESCO sejak 2012, Jatiluwih terbukti mengantongi rentetan penghargaan internasional terbaru, termasuk Best Tourism Village oleh UN Tourism (2024), Top 100 Green Destination (2025), hingga Leading UNESCO Culture Landscape Tourism Destination di Kuala Lumpur (2026).

John K. Purna menegaskan bahwa seluruh penghargaan tersebut harus berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat bawah, khususnya sektor pertanian. ”Jatiluwih Festival telah menjadi agenda penting dalam upaya pelestarian budaya, penguatan ekonomi masyarakat, sekaligus promosi pariwisata berkelanjutan. Keberhasilan pariwisata Jatiluwih harus memberikan manfaat nyata bagi para petani sebagai penjaga utama warisan budaya pertanian Bali,” ujarnya.

Apresiasi tinggi juga datang dari Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, yang memuji konsistensi warga dalam mempertahankan festival ini hingga pelaksanaan yang ketujuh. Merujuk pada filosofi lokal, ia menyebut angka tujuh sebagai simbol pencapaian tujuan dan keberhasilan bersama. Sanjaya juga mengedukasi publik bahwa nilai jual utama Jatiluwih di mata dunia bukanlah sekadar keindahan bentang alamnya, melainkan sistem sosio-religius yang mengaturnya.

BACA JUGA:  TUI Blue Makin Komplit dengan Hadirnya Fasilitas MICE hingga "Surga" Kuliner

Dalam pemaparannya, Bupati Sanjaya mengingatkan pentingnya menjaga identitas daerah di tengah ancaman masif alih fungsi lahan akibat industrialisasi pariwisata. ”Kalau sawah, hampir semua daerah punya. Tetapi sistem tata kelola air seperti subak inilah yang menjadi keunggulan Bali dan diakui dunia. Pertanian adalah fondasi utama Kabupaten Tabanan, sedangkan pariwisata merupakan bonus yang harus dikelola dengan tetap menjaga keberlanjutan alam dan budaya,” tegas Sanjaya.

Sebagai bentuk edukasi hidup sehat sekaligus perayaan sejarah, festival hari kedua diisi dengan kegiatan Fun Run 5K yang diikuti oleh 2.000 peserta. Kegiatan olahraga rekreasi yang bekerja sama dengan Asita Bali ini digelar secara khusus untuk menyambut momentum emas 100 tahun pariwisata Bali. Kemeriahan pesta budaya berkelanjutan ini kemudian ditutup secara apik pada Minggu malam dengan penampilan musisi legendaris Bali, Yan Srikandi, yang menghibur ribuan masyarakat setempat dan wisatawan. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top