Loloan Jaman Lama, Pelestarian dan Kerinduan Tradisi Tempo Dulu

Festival Budaya Loloan yang di dalamnya berisikan pawai budaya dan Loloan Jaman Lame, kembali diselenggarakan oleh anak- anak muda yang terhimpun dalam kepanitiaan di Kelurahan Loloan Timur, mulai Jumat (29/7/2022) hingga Minggu (31/7/2022).

Bupati Jembrana I Nengah Tamba bersama Forkopimda mengunjungi stand-stand Loloan Jaman Lama, Sabtu (30/7/2022) malam
 
 
 
NEGARA-fajarbali.com|Festival Budaya Loloan yang di dalamnya berisikan pawai budaya dan Loloan Jaman Lame, kembali diselenggarakan oleh anak- anak muda yang terhimpun dalam kepanitiaan di Kelurahan Loloan Timur, mulai Jumat (29/7/2022) hingga Minggu (31/7/2022). Festival ini sempat ditiadakan selama dua tahun, akibat pandemi Covid-19. Festival Budaya Loloan yang ke 4 ini, bisa dikatakan kunjungan yang cukup ramai dan padat hingga ribuan orang , dibanding pada Festival ke 3, tahun 2019 lalu, terutama di hari kedua Sabtu (30/7/2022) malam. Festival Budaya Loloan Jaman Lame yang dihadiri Bupati Jembrana I Nengah Tamba dan sekaligus membuka, juga dihadiri Ketua DPRD Jembrana Ni Made Sri Sutharmi dan Forkopimda. Termasuk juga dihadiri Kadis Pawisata dan Kebudayaan Jembrana AA.Komang Sapta Negara. Event tahunan yang juga serangkaian memperingati Tahun Baru Hijriyah 1444 ini, tidak hanya dihadiri warga Loloan tetapi juga dari desa atau kelurahan lainnya berduyun duyun datang meramaikan Festival Budaya Loloan yang menampilkan tradisi Loloan jaman lama atau tempo dulu. Berbagai kekayaan budaya, keunikan tradisi , kuliner loloan disepanjang jalan di Kelurahan Loloan Timur Kecamatan Jembrana. Tema yang diangkat tahun ini “Melintasi Lorong Boedaja Kampoeng Loloan” mengajak masyarakat yang hadir bernostalgia akan tradisi khas masyrakat Loloan Jaman Lame.
 
Sejumlah stand mewarnai suasana dengan obor di kanan kiri tepi jalan. Para pengunjung cukup padat , tidak hanya dari Jembrana tetapi juga dari luar Jembrana bahkan warga dari luar Bali, seperti Jakarta, Padang, Lampung, Kalimantan dan juga dari Malaysia. Mereka datang karena ingin melihat dari dekat seperti apa Festival Budaya Loloan. Selain menonton, mereka juga mendokumentasi terhadap benda benda kuno  termasuk  juga tradisi Loloan masa lampau , bahkan sudah ratusan tahun. 
 
Kedatangan Bupati Tamba bersama Forkopimda disambut Tari Tepak Sirih dengan musik kolaborasi Melayu dan Bali. Bupati Tamba yang didampingi Kepala Lingkungan Loloan Timur mengunjungi seluruh stand di antaranya stand ngotok, seni musik tradisional, burdah, pencak silat, metangas, stand ngaji,  jaje kuno, male, benda kuno peninggalan sejarah di Loloan, irama musik melayu,,foto kuno, permainan kuno, stand nganten tempo dulu, stand mesunat, megesah dan nginang.
 
Bupati Tamba sangat mengapresiasi berbagai atraksi festival ini serta berkesampatan mengunjungi setiap stand pamera yang ditampilkan. Festival ini kata Tamba  untuk memperkenalkan tradisi tempo dulu kepada generasi muda dan masyarakat sekaligus sebagai pelestarian budaya Loloan beserta sejarah panjangnya. ” Saya sangat ingin acara ini dilakukan, dan malam ini sungguh luar biasa. Apa yang sudah dilakukan dan dirancang oleh panitia bersama Pak Kaling, ini saya acungi jempol,” ujar Bupati Tamba dalam sambutannya. Selain itu, Tamba juga mengaku sangat senang dengan konsep festival yang ditampilkan sehingga menarik perhatian banyak masyarakat untuk datang menyaksikan festival ini. “Cara menampilkan, memvisualkan kehidupan Loloan di jaman lama itu sangat dapat,” imbuhnya.
 
Sementar itu Ketua Panitia Festival Budaya Loloan, Ainur Rofiqi mengatakan penyelenggaraan Festival Budaya Loloan yang mengusung konsep Loloan Jaman Lame ini adalah kali keempat. Setelah sebelumnya sempat tertunda karena adanya pandemi Covid-19. “Sebelumnya mulai tahun 2017-2018 kami laksanakan dengan swadaya. Lalu ditahun 2019 didukung oleh Pemkab Jembrana. Setelah pandemi Covid melanda, dua tahun tidak pernah dilaksanakan. Dan Alhamdulillah, tahun ini dengan penuh kebahagiaan kami dapat melaksanakannya dengan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Jembrana,” jelas Ainur.
Festival Budaya Loloan tahun 2022 ini dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 29 sampai dengan 31 Juli 2022 dan menampilkan 18 stand pameran. “Festival Budaya Loloan Jaman Lame ini dimulai pada tanggal 29 Juli 2022, yang ditandai dengan pawai obor, parade sepeda onthel dan lain-lain. Kemudian dilanjutkan malam ini yakni Loloan Jaman Lame, tidak kurang terdapat 18 stand budaya yang ditampilkan sebagai langkah menjaga tradisi dan warisan datuk moyang Loloan,” lanjutnya.
 
Ainur Rofiqi mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemkab Jembrana sehingga festival ini dapat kembali dilaksanakan dengan lancar. “Kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah Kabupaten Jembrana terutama dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan  yang mensupport kegiatan para pemuda di Loloan ini dari awal hingga akhir, dan juga, para tokoh dan masyarakat Loloan pada umumnya yang ikut bersama-sama mensukseskan acara ini,” ujarnya. 
 
Sementara di sisi lainnya, salah satu pengunjung dari Jakarta, Rukman Rosadi ditemui Minggu (31/7/2022) kemarin mengatakan dihari pertama Pawai Budaya dengan menampilkan cikar cikaran permainan kuno, khitanan jaman lama serta lainnya cukup menarik. Dia mengapresiasi pawai itu, lebih pada rasa kebersamaan, karena yang ikut serta dari usia lima tahun hingga kakek nenek juga ikut. 
” Saya pernah jadi Ketua Karnaval di Yogya . Tetapi festival seperti ini tak pernah saya temui, hanya di Festival Budaya Loloan,” ujar Rosadi yang juga aktor teater dan aktor film di Jakarta. Menurutnya, ini sungguh luar biasa, rasa kebersamaannya lebih terasa. Selanjutnya saat orang berkunjung stand Loloan Jaman Lama, ada pengunjung yang sampai menangis saat melihat Tungku Perapian Jaman Lama. “Ini sudah masuk , meskipun sejarah yang diulang. Ini bukan hanya nostalgia tetapi ada pesan yang mengingatkan kembali pada asal usul dan nilai nilai yang dibawa di sana,” terangnya. W-003*

daus

Next Post

Remas Payudara ABG, Buruh Harian Lepas Divonis 6 Tahun Penjara

Sel Agu 2 , 2022
DENPASAR-Fajarbali.com|Seorang pria yang berprofesi sebagai buruh harian lepas (BHL) bernama Lukman (34) harus meringkuk dalam penjara selama 6 tahun karena nekat melakukan tindak pidana pencabulan dengan meremas payudara seorang anak baru gede (ABG). Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar yang diketuai Putu Suyoga dalam amar putusannya yang dibacakan di muka […]
5220CDBE-8461-4F95-95CE-7B3E5E21F2FC-c265492e
BPD BALI