Panji Agustino menambahkan, sebelumnya dari proposal bisnis digital atau startup mahasiswa yang masuk ke Inbis, kemudian ditelaah lagi oleh Tim Pengembang Usulan Perguruan Tinggi dan Reviewer Internal yakni I Gede Bintang Arya Budaya, S.Kom, M.Kom dan Gede Indra Raditya Martha, S.TI, M.Kom.
“Ada 15 proposal startup yang kami terima, setelah ditelaah dan reviewer internal untuk pendampingan dari kami, ada yang gugur karena kami nilai belum layak sehingga kami kirim hanya 11 proposal ke Kementerian di Jakarta. Astungkara akhirnya lima tim lolos, empat tim lolos di P2WM dan satu orang di IWDM. Ini ada peningkatan jiwa entrepreneur mahasiswa, sebab dibandingkan tahun lalu yang hanya lolos 4 tim, tapi tahun 2022 ini lolos 5 tim. Soal nilainya, dari proposal yang kami ajukan, nilainya Rp 20 juta per unit usaha,” kata Panji Agustino di kampus ITB STIKOM Bali, Renon, Denpasar, Kamis (4/8/2022).
Manager Inbis ITB STIKOM Bali I Gede Bintang Arya Budaya merinci startup yang mendapat pendanaan tersebut. Tim 1 – LAKONMI membuat produk kerajinan tangan menggunakan bahan rajutan dengan menggabungkan bahan lokal. Untuk startup SetUp Style, kelompok mahasiswa membuat sebuah platform untuk menjual produk pakaian dengan mengkategorikan pakaian-pakaian berdasarkan trend terkini. “Jadi konsumen tidak perlu mikir style apa yang cocok tapi sudah dibuatkan template sesuai trend saat ini,” terang Bintang.
Selanjutnya Rotan Baline yang berlokasi di Gianyar ini adalah bisnis kerajinan tangan yang dibuat mahasiswa menggunakan bahan rotan. Terakhir, Roti Bakar dan Selai Ngeunah adalah produk selai dan roti bakar yang ditampilkan dengan visual yang menarik. Uniknya, mahasiswa membeli buah-buahan dari petani lalu mereka oleh sendiri menjadi selai.










