
FOTO: I Kadek Riki Mahardika, SM.
DENPASAR - sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Tidak banyak yang Riki ketahui tentang sang ayah, kecuali sebuah cerita bahwa tahun 1996 silam, ia digendong oleh seseorang agar leluasa melihat jenazah ayahnya dimandikan untuk terakhir kalinya. Sebelum dikebumikan.
Saat itu, pemilik nama lengkap I Kadek Riki Mahardika belum genap berusia satu tahun. Barulah memasuki usia sekolah dasar, Riki sadar bahwa dirinya seorang yatim.
Kerinduan terhadap ayahnya, I Ketut Merta, acap datang tiba-tiba. Menyiksa. Sayangnya, jejak berupa foto pun tak bisa ia temukan. Wajah almarhum ayahnya hanya sebuah bayangan. "Kalau kata orang-orang, ayah mirip saya," kata Riki, Minggu (24/9/2023) di Denpasar.
Sepeninggal Merta, Ni Luh Sadri, seketika mengambil peran ganda; ibu sekaligus bapak bagi dua buah hatinya. Riki punya kakak lelaki bernama I Gede Ngurah Suparsa.
Berbagai cara ditempuh Sadri demi kelangsungan hidup kedua buah hatinya. Sewaktu suaminya hidup, keluarga kecil ini merantau ke Kota Denpasar. Namun setelah kepergian tulang punggung keluarga, mereka kembali ke kampung halaman, Desa Antiga, Manggis, Karangasem, sampai beberapa tahun.
Merasa peluang pekerjaan kurang di kampung, Sadri memutuskan kembali ke Denpasar menjadi "tukang suun" di Pasar Badung. Sementara, Riki dan kakaknya dititipkan di kampung. Mereka sudah masuk sekolah dasar. Dua bocah itu diasuh oleh keluarga almarhum suaminya.
Di ibu kota, Sadri benar-benar membanting tulangnya. Tiap minggu Sadri rutin menjenguk kedua anaknya. Kalaupun tidak sempat, ia menitipkan uang pada sanak yang pulang kampung.










