“Di Inggris penduduknya juga sangat beragam. Memang mayoritas Kristen, tapi dibagi lagi. Muslimnya juga sekarang banyak. Belum yang lain. Tapi mereka tidak punya forum (kerukunan antar-umat) seperti kita di Indonesia. Mereka sangat kagum dan tertarik,” kenangnya.
Senator AA Gde Agung tukar cinderamata dengan akademisi di Birmingham University.
Falsafah lokal Bali, Tri Hita Karana juga menjadi bahan diskusi yang tak kalah menarik antara dirinya dengan kaum terpelajar di Birmingham University yang notabene perguruan tinggi kelas dunia tersebut.
Di saat AA Gde Agung menjelaskan konsep Parhyangan, Palemahan dan Pawongan, ia mengaku orang-orang Inggris manggut-manggut dengan sorot mata tajam ke arahnya. “Artinya mereka sangat paham, dan mungkin dalam hatinya ‘bener juga nih’ ajaran dari Bali.
Dalam pengamatannya selama di Negeri Tiga Singa itu, sebenarnya rakyat Inggris sudah menerapkan ajaran Tri Hita Karana, yakni menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama dan lingkungan. Hanya saja belum maksimal dan tidak memiliki konsep yang jelas seperti masyarakat Bali.
“Untuk itu, berbanggalah kita sebagai orang Bali yang diwariskan ajaran yang sangat luar biasa oleh leluhur kita. Ajaran yang bikin orang asing kagum,” pungkas AA Gde Agung. (Gde)










