"Wisatawan yang datang banyak, tapi untuk membeli dagangan kami masih relatif rendah. Mereka lebih banyak hanya untuk mandi, jalan-jalan atau menikmati matahari terbenam, setelah itu kembali pulang. Walaupun ada yang membeli, jumlahnya tidak begitu banyak seperti sebelum pandemi. Tapi kami tetap senang karena sudah diberi izin untuk kembali berjualan. Semoga ini terus berlanjut untuk perekonomian masyarakat Bali yang lebih baik," ujarnya.
Pedagang pantai lainnya, Pastini juga menyampaikan hal yang sama. Meski dari hasil berjualan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, namun ia mengaku merasa bersyukur bisa diizinkan kembali mengais rezeki di pantai. "Memang tidak banyak yang laku, tapi saya bersyukur bisa untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Daripada diam di rumah, tidak ada penghasilan," katanya.
Ia menuturkan, saat ini dirinya lebih memilih untuk berjualan makanan dan minuman ringan karena tahan lama dan tidak cepat basi. "Sementara ini saya jualan makanan dan minuman yang bisa disimpan cukup lama. Jika hari ini belum laku, masih bisa saya bawa untuk keesokan harinya. Sebagian besar pengunjung yang datang lebih memilih untuk membeli minuman sambil menikmati suasana pantai. Semenjak dibukanya pintu masuk ke Pantai Kuta, dari pagi sudah banyak yang datang. Biasanya sore lebih banyak lagi," terangnya.
Sementara itu, salah seorang Satgas Pantai Kuta, I Wayan Sirna mengatakan, kunjungan kian meningkat saat akhir pekan dan sebagian besar pengunjung adalah wisatawan domestik dari berbagai daerah di Indonesia terutama Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, NTB hingga Papua serta pengunjung dari lokal Bali. "Guna mengantisipasi penyebaran Covid-19, kami selalu melakukan koordinasi kepada petugas lainnya untuk selalu melakukan pemantauan terhadap pengunjung maupun pedagang. Selain itu, pengelola Pantai Kuta juga sudah memasang QR Code yang terhubung dengan aplikasi PeduliLindungi untuk melakukan skrining terhadap pengunjung," pungkasnya. (dha)










