Nah, pada 7 Maret 2022, nasabah mulai curiga alias mulai kehilangan modal yang mereka investasikan. Walau robot trading tetap masuk ke pasar, namun hasilnya membuat mereka kecewa akibat tidak ada hasil yang didapatkan.
"Malamnya, trading lagi tapi minus yang luar biasa dan itu terus menerus tidak stop sampai equity kita terkuras," kata Murni lagi.
Saksi korban Murni dan Beni mengungkapkan korban investasi bodong tidak hanya berjumlah 300, tapi lebih dari itu. Dengan total kerugian diperkirakan mencapai Rp 5 triliun.
Ia pun meminta agar kasus yang dilaporkan segera disikapi penyidik Ditreskrimsus Polda Bali, dan berharap uang yang telah diinvestasikan bisa kembali.
Sementara itu, Direktur Reskrimsus Polda Bali Kombes Pol Hendri Fiuser mengatakan pihaknya belum menerima laporan dari korbannya.
"Saya belum terima laporan resminya, yang jelas kalau sudah kita terima akan kami lakukan penyelidikan berdasarkan laporan yang ada," ungkap Kombes Pol Hendri Fiuser, saat dikonfirmasi wartawan, pada Senin 14 Maret 2022. (Hen)










