Menariknya, festival tersebut tidak hanya sebatas pameran karya. LPPM UNHI juga mengemas kegiatan dengan kompetisi permainan yang mengangkat salah satu karya inovatif mahasiswa dan dosen dari Program Studi Sistem Informasi, yakni prototipe game One Hour War.
Game tersebut dirancang dengan konsep permainan perang yang sekaligus memperkenalkan tokoh-tokoh pahlawan lokal maupun nasional kepada para pemain. Dengan pendekatan yang lebih interaktif, sejarah dan sosok kepahlawanan dikemas dalam bentuk permainan sehingga diharapkan lebih menarik, khususnya bagi generasi muda.
Antusiasme mahasiswa pun terlihat saat mencoba permainan tersebut. Banyak mahasiswa tertarik untuk memainkan sekaligus memberikan masukan terhadap prototipe yang dikembangkan.
Menurut Fery, antusiasme tersebut justru menjadi bagian penting dari proses pengembangan inovasi. Masukan dari pengguna diperlukan untuk melihat berbagai kekurangan, baik dari sisi konten, kualitas maupun aspek teknis.
“Ajang ini selain untuk memperkenalkan, juga menjadi bahan evaluasi hasil karya inovasi yang dihasilkan dosen dan mahasiswa. Kami ingin mendapatkan masukan dari pengguna mengenai apa yang masih kurang dari game tersebut, baik konten, kualitas maupun teknis,” ujarnya.
Festival inovasi kali ini memang secara khusus memberikan ruang kepada mahasiswa Program Studi Sistem Informasi untuk memperkenalkan karya-karya mereka. Kendati UNHI memiliki berbagai program studi dan fakultas, kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk menghadirkan festival inovasi sebagai bagian dari pengembangan budaya kreatif di lingkungan kampus.









