Menurut Kabid Kunayanti, salah satu tantangan terbesar dalam penyediaan layanan internet ini adalah adanya blank spot di beberapa lokasi, terutama DTW yang berada di daerah terpencil. “Kami berharap dengan jaringan yang kami sediakan, layanan ini dapat mengurangi kendala blank spot tersebut,” ungkapnya.
Selain faktor geografis, cuaca ekstrem juga menjadi tantangan dalam pengoperasian layanan internet. Hujan deras dan badai dapat menyebabkan gangguan jaringan, termasuk putusnya kabel yang membutuhkan waktu untuk diperbaiki. Untuk mengatasi kendala ini, Dinas Kominfosanti Buleleng terus melakukan monitoring secara langsung dan melalui aplikasi MRTG guna memastikan koneksi tetap stabil.“Kami selalu melakukan pemantauan baik langsung di lapangan maupun melalui aplikasi MRTG. Jika ada gangguan layanan, kami segera menghubungi penyedia jaringan untuk melakukan pengecekan dan perbaikan secepatnya. Kami juga mengimbau penerima manfaat untuk memahami bahwa kondisi cuaca dapat mempengaruhi kestabilan jaringan internet,” tambahnya.
Layanan internet ini diharapkan mampu memperlancar pelayanan publik dan administrasi di berbagai UPT, seperti Puskesmas dan unit pendidikan. Sementara di DTW, layanan ini mendukung digitalisasi sistem e-tiketing, yang akan meningkatkan efisiensi dan kenyamanan bagi wisatawan.“Kami berharap layanan ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat serta mendukung transformasi digital di berbagai sektor. Dinas Kominfosanti Buleleng berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan internet agar dapat diakses dengan lebih luas dan stabil,” pungkas Made Kunayanti. @gus










