Melihat perkembangan TOSS yang sangat pesat, DLH Klungkung pun akan menambah program TOSS. Mengingat saat ini program unggulan Pemkab Klungkung ini baru menyasar 14 desa saja. Oleh karena itu, ia menarget pada akhir 2018, seluruh desa di Klungkung daratan sudah menggulirkan program TOSS. Sedangkan untuk desa-desa di Nusa Penida akan disasar pada tahun 2019 mendatang. Saat ini pihaknya masih berkoodinasi dengan pihak desa mengenai pengadaan program ini. Mengingat dana yang dibutuhkan untuk membeli mesin pelet dan mesin lainnya berkisar Rp 200-300 juta.
Walaupun terbilang cukup mahal, tetapi manfaat yang diperoleh warga sangat banyak. Agung Kirana menilai, dibandingkan mengolah sampah menjadi pupuk organik yang memakan waktu lama, lebih baik diolah menjadi pelet dengan waktu sekitar 7-10 hari saja.
"Kami tekankan agar semua desa beli mesin pelet, hal ini untuk tuntaskan masalah sampah. Kalau dengan mesin pelet 1 minggu sampai 10 hari sudah bisa," imbuhnya sekaligus mengatakan program ini sudah memperoleh dukungan dari para pemilik hotel di Nusa Penida.
Sementara Perbekel Gunaksa, Ketut Budiarta mengatakan TOSS Werdhi Guna yang dikelola warganya sudah menjual gasfire kepada PT. Indonesia Power. Bahkan pihaknya sudah mensuplai 1 ton gasdire PLN.
"Indonesia Power membeli pelet dari BUMDEs Guna Jaya Kerthi yang dihasilkan TOSS Werdhi Guna seharga Rp 300 per kilogram," terangnya. Harga ini tentu tergolong murah, dan belum sanggup menutupi biaya operasional. Menurut Budiarta, idelanya pelet dijual seharga Rp 600-800 per kilogramnya. "Tujuan kita semata mata tidak untuk mendapat untung, yang penting bagaimana kita memerangi sampah," tegasnya. (dia)










