Menyikapi kebijakan Bali Net Zero 2045, Mudarta menjelaskan, pihaknya di sektor perhubungan telah menggagas sejumlah strategi, seperti transportasi ramah lingkungan hingga menggalakkan transportasi publik. “Sektor transportasi termasuk penyumbang emisi nomor dua di Bali. Untuk itu, strategi yang pertama adalah mendorong moda transportasi ramah lingkungan dengan teknologi kendaraan listrik. Kedua, Bali harus mengarah ke transportasi publik,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali Ida Bagus Setiawan menyambut baik kajian yang dilakukan oleh KemBali Becik melalui survei emisi rumah kaca. Menurutnya, kajian ini bisa membantu dan berkolaborasi bersama pemerintah untuk mengimplementasikan hasil kajian tersebut.
"Kemitraan pemerintah harus dengan banyak sektor. Apalagi tantangan ke depan Bali ditargetkan net zero emission tahun 2045. Bagaimana agar kita tidak membuat studi kajian, namun implementasinya. Ini peran stakeholder atau komunitas seperti KemBali Becik yang merupakan partner pemerintah. Kalau ada kajian seperti ini, kita tidak perlu lagi membuat studi kajian, tapi bagaimana kita berkolaborasi untuk mengimplementasikannya," paparnya.
Ari Chandana menambahkan, Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali juga memiliki berbagai strategi yang sedang dijalankan, mulai dari membuat regulasi, melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, dan membuat peta jalan. Ia juga menjelaskan, saat ini pembangkit listrik tenaga surya merupakan yang terbanyak di Bali dibandingkan pembangkit listrik tenaga lainnya.










