TABANAN–Fajarbali.com | Kebun Raya Bali merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 dengan mengusung tema Ajegang Bhuana, Nguripang Budaya, yang bermakna menjaga alam sekaligus menghidupkan budaya.
Mengusung semangat tersebut, rangkaian perayaan yang berlangsung pada 11, 12, dan 15 Juli 2026 menghadirkan berbagai kegiatan budaya, edukasi, kuliner, wellness, hingga konservasi yang mengajak masyarakat menikmati kekayaan alam dan tradisi Bali dalam satu pengalaman yang utuh.
Selama 67 tahun berdiri, Kebun Raya Bali telah berkembang menjadi lebih dari sekadar kawasan konservasi tumbuhan pegunungan tropis. Berlokasi di kawasan sejuk Bedugul dengan panorama Danau Beratan, Kebun Raya Bali menjadi ruang yang mempertemukan fungsi konservasi, penelitian, edukasi, rekreasi, sekaligus pelestarian budaya yang tumbuh selaras dengan alam.
Mengangkat filosofi hubungan harmonis antara manusia, alam, dan budaya, rangkaian HUT ke-67 dirancang untuk semakin memperkuat posisi Kebun Raya Bali sebagai destinasi konservasi dan wisata edukasi yang menghadirkan pengalaman khas pegunungan Bali.
Salah satu daya tarik utama perayaan tahun ini adalah pertunjukan Tari Kecak yang untuk pertama kalinya dipentaskan di Amphitheater Surya Nirwana dengan panorama Danau Beratan sebagai latar alami. Selama ini Tari Kecak identik dipentaskan di kawasan pantai atau tebing laut Bali, seperti Uluwatu, dengan latar matahari terbenam.
Kini, pertunjukan ikonik tersebut hadir dalam suasana pegunungan yang asri, memadukan keindahan hutan tropis, udara sejuk Bedugul, serta panorama danau sehingga menghadirkan pengalaman budaya yang berbeda sekaligus memperkaya alternatif destinasi wisata budaya di Pulau Dewata.
Selain Tari Kecak, pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan Gamelan Bali, Tari Pendet, hingga fragmen Ramayana yang semakin menghidupkan kekayaan seni tradisional Bali di tengah bentang alam pegunungan.
Tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, HUT ke-67 Kebun Raya Bali juga menjadi momentum pelestarian warisan kuliner Bali melalui Ngelawar Fest. Lawar merupakan salah satu kuliner tradisional khas Bali yang selama ini umumnya diselenggarakan dalam berbagai agenda budaya dan festival oleh pemerintah daerah di Bali.
Untuk pertama kalinya, festival dan kompetisi lawar diinisiasi oleh pihak non-pemerintah, menjadikan Kebun Raya Bali sebagai ruang kolaborasi baru bagi pelaku budaya, komunitas, pelaku UMKM, hingga generasi muda untuk menjaga keberlanjutan kuliner tradisional Bali.
Melalui Festival dan Kompetisi Lawar, para peserta menampilkan keahlian mereka dalam mengolah berbagai jenis lawar dengan tetap mempertahankan cita rasa autentik, filosofi, serta nilai-nilai budaya yang melekat pada hidangan tersebut. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah edukasi sekaligus memperkenalkan kekayaan gastronomi Bali kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Melalui kompetisi memasak berbagai jenis lawar, demonstrasi kuliner, hingga tradisi Megibung atau makan bersama, Kebun Raya Bali membuka ruang kolaborasi bagi komunitas budaya, pelaku UMKM, akademisi, dan generasi muda untuk bersama-sama menjaga keberlanjutan salah satu warisan gastronomi khas Bali. Kegiatan ini diharapkan menjadi media edukasi sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Bali kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Semangat menjaga keseimbangan alam juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan edukatif dan konservasi, mulai dari Wellness Activity yang diikuti 67 peserta yoga sebagai simbol perjalanan 67 tahun Kebun Raya Bali, workshop tanaman seperti kokedama, begonia, dan sukulen, hingga seremoni puncak berupa upacara adat, jalan sehat, serta penanaman pohon bersama BRIN sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan.
Sebagai kebun raya yang berdiri sejak 15 Juli 1959, Kebun Raya Bali merupakan Kebun Raya pertama yang dibuat oleh orang Indonesia yaitu Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo, Kebun Raya Bali terus mengembangkan berbagai program yang mengintegrasikan fungsi konservasi, penelitian, edukasi, wisata, dan budaya. Memasuki usia ke-67, Kebun Raya Bali semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata berbasis alam dan budaya yang menawarkan pengalaman khas pegunungan tropis Indonesia.
Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto, mengatakan perayaan HUT ke-67 menjadi wujud komitmen Kebun Raya Bali dalam mengintegrasikan fungsi konservasi dengan pelestarian budaya lokal.
"Kebun Raya Bali memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Melalui perayaan HUT ke-67 ini kami ingin menghadirkan pengalaman yang menghubungkan alam, budaya, dan tradisi dalam satu destinasi. Pertunjukan Tari Kecak dengan latar Danau Beratan serta Ngelawar Fest menjadi simbol bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Kami berharap Kebun Raya Bali terus menjadi ruang kolaborasi bagi konservasi, edukasi, dan edukasi budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Marga.
Plt. Sekretaris Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Djoko Nugroho, mengatakan BRIN berharap Kebun Raya Eka Karya Bali memiliki satu upaya, karya dalam rangka melestarikan lingkungan, memperkaya kegiatan-kegiatan mencintai lingkungan, menambahkan edukasi khususnya kepada masyarakat sekitar, tak hanya Bali bahkan nasional serta global.
“PT Mitra Natura Raya sangat profesional untuk menjalankan kegiatan-kegiatan sesuai dengan fungsinya, lima fungsi kebun raya. Dan tentunya bisa berekspresi, mengaktualisasi ide-ide yang lebih brilian untuk meningkatkan Kebun Raya Eka Karya Bali ini menjadi lebih hebat, dan lebih dikenal masyarakat Indonesia dan masyarakat global,” ujarnya.
Melalui rangkaian HUT ke-67 ini, Kebun Raya Bali ingin mengajak masyarakat merasakan bahwa konservasi tidak hanya tentang menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga merawat budaya yang hidup di sekitarnya. Dengan perpaduan panorama pegunungan Bedugul, keindahan Danau Beratan, pertunjukan seni tradisional, warisan kuliner Bali, serta berbagai aktivitas edukatif, perayaan HUT ke-67 diharapkan menjadi salah satu perayaan budaya dan konservasi yang paling berkesan di Pulau Dewata tahun ini.M-002










