
Terdakwa Nyoman Supariani saat (paling kanan) saat sidang di Pengadilan Negeri Denpasar.Foto/eli
DENPASAR-Fajarbali.com|Sidang kasus kejahatan perbankan dengan terdakwa Nyoman Supariyani kembali bergulir di Pengadilan Negeri Denpasar. Kamis (22/8/2024). Sidang yang dipimpin hakim Putu Ayu Sudariasih masuk pada agenda pemeriksaan saksi meringankan yang dihadirkan terdakwa melalui kuasa hukumnya, Teddy Raharjo.
Saksi Adi Saputra yang merupakan mantan bawahan terdakwa di bank BPR KS Bali Agung Sedana (BPR KS) cukup pandai dan terkesan sangat menguasai apa yang terjadi dalam BPR KS. Saksi yang saat BPR KS masih beroperasi memang masih berstatus calon direktur yang disiapkan untuk menggantikan Don Gaspar. Meski begitu, banyak hal yang diketuai oleh saksi.
Misalnya soal pembelian aset berupa tanah dan bangunan dari Yance yang saat itu menjabat sebagai komisaris di BPR KS. Saksi menerangkan, mengetahui jika BPR KS membeli aset gedung itu dari data yang tertuang dalam sistem.”Saya melihat di sistem ada uang keluar untuk membeli gedung seharga Rp 4,8 miliar. Dan gedung itu adalah milik saudara Yance,” ujar saksi di muka sidang.
Saksi juga memastikan jika jual beli gedung itu juga diketahui oleh pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).”Kareena pembelian gedung ini masuk dalam sistem, maka sudah pasti pihak OJK mengetahui karena setiap tahun ada audit yang dilakukan oleh OJK,” terangnya saksi. Dan terhadap BPR KS, saksi juga menerangkan ada audit dari OJK.
“Sejak saya bekerja di BPR KS pernah ada audit dari OJK, dan apa hasil audit dari OJK selalu kami rapatkan,” ungkapnya. Dikatakan pula, audit tidak hanya dilakukan oleh OJK, tapi audit juga dilakukan oleh Internal. Terkait jual beli gedung, saksi menerangkan pihak BPR KS belum bisa membaliknamakan menjadi atas nama bank karena pembayaran belum lunas.










