Ia menekankan, peran orang tua menjadi faktor utama dalam pengawasan dan pendidikan anak-anak terkait bahaya HIV/AIDS.
Selain itu, dukungan pemerintah juga dinilai krusial untuk memperluas edukasi tentang HIV/AIDS di kalangan pelajar, khususnya di tingkat menengah dan atas, agar generasi muda memiliki pengetahuan yang cukup untuk melindungi diri dari penularan virus tersebut.
Pada sesi kedua, Ketua Forum Peduli AIDS (FPA) Bali Oka Negara mengatakan upaya edukasi pencegahan HIV dapat dilakukan melalui kurikulum pendidikan, mulai dari jenjang Sekolah Dasar. Hal ini karena tidak sedikit kasus penularan HIV yang ditemukan pada kalangan pelajar.
“Kita butuh edukasi seksual, kalau bisa lewat kurikulum, karena masalahnya aktivitas seksual itu tersembunyi, kita tidak pernah tahu. Berbeda dengan merokok atau pakai narkoba, jadi pada akhirnya penting membuat perilakunya sehat lewat pengetahuan,” kata Oka Negara.
Untuk jenjang sekolah dasar, menurut dia, tentu dengan materi yang lebih sederhana dibandingkan untuk jenjang SMP dan SMA, bisa mengenai materi pola hidup sehat. Jika tidak memuat dalam kurikulum, sekolah pun dapat memberikan buku panduan pencegahan kekerasan seksual atau bahaya akibat aktivitas seksual lainnya.
Materi mengenai pencegahan penularan HIV dapat dimasukkan dalam pelajaran Biologi yang di dalamnya ada materi reproduksi, maupun bisa dimasukkan dalam pelajaran sosiologi.










