"Untuk itu kita akan terus melakukan pendampingan secara berkelanjutan agar desa ini bisa menjadi mandiri,” imbuh dia.
Sementara itu Perwakilan dari Faculty of Applied Sain Universiti Teknologi Mara Malaysia Ts. Dr. Aida Firdaus bt Muhammad Nurul Azmi mengatakan, tujuan kedatangannya ke Bali mengadakan international community service untuk memperkenalkan salah satu program yang disebut Food Arcade (Foodology Arcade & Recycle).

Program ini, lanjutnya, merupakan salah satu inovasi dari produk pangan dan pemanfaatan limbah dari makanan dengan cara didaur ulang serta dijadikan produk yang lebih berguna dan bisa dikonsumsi sehingga menjadi Zero Waste (Nol Limbah).
Produk tersebut dalam bentuk sambal nangka, yang bisa dikonsumsi dengan nasi ataupun ketupat. Selain itu ia juga memperkenalan teknologi pengawetan makanan dengan cara di-retud (dipanaskan).
Setelah divakum dan dipanaskan menggunakan alat khusus dengan suhu 120’c selama 15 menit, ia mengklaim ketupat tersebut bisa tahan di suhu ruangan sampai dengan dua tahun.
Kepala Desa Wanagiri Made Suparanton, mengucapkan terimakasih kepada Universitas Warmadewa dan juga kepada Univeristi Teknologi Mara yang telah berkenan melaksanakan kegiatan pengabdian di Desa Wanagiri.
Pihaknya merasa sangat bersyukur dengan diadakannya kegiatan tersebut masyarakatnya mendapat pengetahuan baru tentang pengolahan kopi dan juga Food Arcade.
Menurutnya kedua hal tersebut sangat penting dikembangkan untuk mewujudkan keberlanjutan dan ketahanan pangan. “Mudah-mudahan dengan ini masyarakat kami mendapatkan inspirasi dan pengetahuan baru guna untuk meningkatkan kemandirian serta menunjang potensi pariwisata yang kami miliki disini,”pungkasnya.










