DENPASAR-Fajarbali.com | Ditengah ancaman virus Corona tidak membuat bisnis esek-esek yang memanfaatkan aplikasi Michat di Denpasar mengendur, sebaliknya malah semakin marak.
Wajar saja, hanya dengan modal kuota internet, pemilik handphone berbasis android maupun iPhone sudah bisa mendownload Michat dan langsung memanfaatkan layanan yang tersedia.
Tapi sayang, aplikasi yang diciptakan untuk mempermudah dalam menjalin komunikasi dengan sama pengguna ini, malah banyak digunakan sebagai ajang prostitusi online untuk menarik uang dari pria hidung belang.
Keuntungan yang diraih dari bisnis esek-esek melalui aplikasi Michat ini juga tidak sedikit. Dari pengakuan Devi Febriani (21) saat diadili dalam kasus prostitusi online, perharinya dia bisa meraup keuntungan sebesar Rp 3 juta hingga Rp 4 juta.
Padahal Devi dalam bisnis ini hanya sebagai pengelola akun alias mami, bukan sebagai pelaku."Saya hanya mengelola akun saja, bukan sebagai pekerjanya," ungkap wanita berpenampilan mirip pria ini.
Devi yang hanya sebagai perantara bisa meraup keuntungan sebesar ini hanya "mengasuh" tuju orang wanita. Dikatakan Devi, sekali kencan, wanita yang rata-rata masih berusia muda itu mendapat upah Rp. 200 ribu.
"Soal harga saya yang menentukan, yang jelas sekali kencan ceweknya dapat Rp 200 ribu. Misalnya, saya menawarkan Rp. 600 ribu, saya dapat Rp. 400 ribu," terangnya Devi yang mengaku asal Bandung, Jawa Barat.
Dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Devi mengaku baru melakoni bisnis prostitusi online sebagai pengelola di bulan Juni 2020.










