
FOTO: I Wayan Sunada
DENPASAR – sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadistanpangan) Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menanggapi kenaikan harga beras yang saat ini berkisar di Rp14 ribu per kg.
Sunada mengurai, kenaikan harga bahan paling pokok itu, dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, karena Bali memasuki musim kemarau, sehingga panen tidak merata di semua kabupaten.
Kedua, karena naiknya biaya produksi petani. Berikutnya, teknik petani Bali pada umumnya melakukan budidaya ramah lingkungan atau sudah mengarah ke organik, sehingga menghasilkan beras premium dengan rasa yang pulen, dan sehat untuk dikonsumsi.
"Kami sangat menyadari kenaikan harga beras ini menjadi dilema. Tapi harap maklum, karena petani kita ongkos produksinya juga naik pada penggilingan gabah. Namun bagi konsumen tentu jadi beban," kata Sunada, Kamis (21/9) di Denpasar.
Saat ini, lanjut dia, harga jual gabah petani mencapai berkisar Rp 6.000 sampai dengan Rp 6.500 per kilogram di tingkat petani, lebih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp5.500 per kg.
Sehingga, menurut pandangannya, kenaikan harga Rp1000 per kg masih tergolong wajar. "Jadi dengan harga yang sebelumnya Rp 13 ribu, naik menjadi Rp14 ribu per kilogram, dan sudah mengarah ke organik. Wajarlah terjadi kenaikan harga, dan itu masih terjangkau," tuturnya.
Lebih lanjut, sekarang bukan merupakan masa panen raya di Bali. Panen raya terjadi pada Maret - April. Pada bulan September 2023 ini, terdapat panen seluas 8.500 hektar. "Yang paling tinggi panen terjadi di Tabanan, Badung, Gianyar, dan Buleleng," sebutnya.










