"Bahkan, lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia (43 persen), Thailand (49,29 persen), dan Singapura (91,09 persen). Memang betul bahwa pemerintah telah memberikan beasiswa salah satunya program KIP. Namun utk meningkatkan APK ini saya rasa KIP tidak cukup," imbuh Darma Suyasa.
Ia berpandangan, perlu kebijakan dan mekanisme lain. Jika melihat negara lain seperti Thailand, Jepang dan negara maju lainnya, negara-negara tersebut memberikan pinjaman kepada masyarakat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.
Setelah mereka mendapatkan pekerjaan, maka mereka akan mengembalikan uang ke negara dengan cicilan tanpa bunga.
Tentunya dengan berubahnya kementerian pendidikan menjadi tiga kementerian, maka yang perlu diantisipasi adalah pembengkakan dana operasional kementerian.
Ia berharap jangan sampai karena bertambah kementerian, operasional meningkat tetapi program utama untuk meningkatkan kesejahteraan, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan masyarakat menjadi tertunda.
Darma Suyasa melanjutkan, yang menarik dari kementerian pendidikan tinggi, Sains dan Teknologi adalah ditunjuknya Prof. Stella Christie sebagai Wakil Menteri (Wamen).
"Figur beliau sangat menarik, usia relatif muda, setahun lebih muda dari saya, karir akademik yang bagus, semoga membawa perubahan positif terhadap pendidikan tinggi di tanah air," kata Darma Suyasa.
"Saya percaya pemerintah akan bekerja dengan sungguh-sungguh dengan semangt Merah Putih dan semangat pembaharuan," pungkasnya.










