“Karena bagaimanapun juga, aktivitas yang dilakukan di dalam kawasan cukup banyak. Boleh dikatakan 24 jam, kemudian secara tamu yang datang kurang lebih sudah lebih dari 2 juta orang setahun. Dengan demikian, dengan adanya energi-energi yang mungkin sudah banyak negatif, kita berusaha membuat keseimbangan. atau mengharmoniskan dengan alam semesta terutama di lingkungan the Nusa Dua,” jelasnya.
“Idealnya secara keyakinan, sebaiknya upacara ini digelar antara 20-30 tahun sekali. Untuk sarana upacara yang digunakan, tingkatan upacara bantennya yang utama. Sedangkan untuk sarana pendukungnya, tetap disesuaikan dengan anggaran biaya. Kita optimalkan dan kita tidak mau terlalu mewah yang penting bantennya sesuai dengan tingkatan utama,” terang Agus Dwiatmika.
Pelaksanaan upacara yang dimulai sejak siang hari, dipimpin oleh Sulinggih Siwa dan Budha, yakni Ida Pedanda Gede Giri Dwija Guna dari Griya Giri Sari Uma Ngenjung Angantaka dan Ida Pedanda Budha dari Griya Tegal Jadi Tabanan. Pada kesempatan ini pula ditampilkan tari atau kesenian sakral sebagai pengiring upacara, di antaranya Rejang Taman Sari, Topeng, dan Wayang Lemah. (M-001)










