Faktor melasma pada ibu-ibu mitra ditengarai karena faktor profesi. Sebab sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani, peternak, dan pedagang sehingga lebih sering berada diluar ruangan dan terpapar matahari selama bekerja.
"Oleh karena itu, komunitas ibu yang bekerja di banjar ini sangat rentang terkena melasma karena setiap hari terpapar sinar UV. Saat ini komunitas berjumlah sekitar 15 orang, dan seluruhnya menderita melasma," ungkap dr. Shinta.
Melasma terutama memiliki dampak kosmetik bagi para pasien yang menyebabkan tekanan emosional, tidak percaya diri, dan psikososial yang mengakibatkan pasien mencari pengobatan.
Banyaknya produk skincare yang tidak lulus BPOM dapat merusak skin barrier sehingga akan berdampak pula pada melasma. Kurangnya pengetahuan membuat mitra tidak dapat memilih skincare dengan tepat.
Sehingga mitra memerlukan produk skincare yang aman untuk kulit. Sampai saat ini belum ada terapi baku emas untuk melasma, sehingga pencegahan sangat penting.
"Pencegahan yang paling sederhana adalah dengan menggunakan perlindungan diri seperti topi, menggunakan pakaian panjang, menggunakan tabir surya dan pemilihan skincare yang tepat," ungkapnya.
Rendahnya kemampuan pengelolaan keuangan juga menjadi faktor yang memengaruhi sulitnya pencegahan maupun pengobatan melasma pada warga di Banjar Geria, karena warga masih lebih berfokus untuk memenuhi kebutuhan pokok dibandingkan pemenuhan kebutuhan lainnya seperti kesehatan maupun perawatan diri.
Berdasarkan situasi tersebut didapatkan tiga masalah prioritas yang ada pada mitra yaitu kualitas pengetahuan terkait melasma yang kurang, tidak bisa memilih skincare yang tepat dan rendahnya kemampuan pengelolaan keuangan.










