GIANYAR-fajarbali.com | Memiliki kulit bersih dan cerah merupakan dambaan setiap orang, khususnya kaum hawa. Namun berbagai faktor menyebabkan munculnya gangguan pada kulit. Sehingga perlu mendapatkan edukasi dari ahlinya.
Oleh karena itu, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Warmadewa (Unwar) berupaya memberikan dampak langsung ke masyarakat dengan mengambil lokasi di Banjar Geria, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, awal Oktober 2025 lalu.
Belasan komunitas ibu-ibu di banjar setempat menjadi mitra pada PkM yang diusulkan oleh dr. Putu Shinta Widari Tirka, Sp.DVE (Ketua Pengusul) serta dr. I Gde Nengah Adhilaksman Sunyamurthi Wirawan, Sp.KK dan
Dr. Putu Yudha Asteria putri, S.E, M.Si.
Tim PkM berasal dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unwar. Dari fakultas kedokteran memberikan materi tentang kesehatan dan fakultas ekonomi mengisi bagian pengelolaan keuangan.
dr. Shinta mengatakan, PkM di Banjar Geria ini memfokuskan pada pencegahan melasma dengan memilih produk skincare yang tepat serta pengelolaan keuangan bagi komunitas ibu-ibu yang bekerja di bajar tersebut.
Pencegahan Melasma dengan Pemilihan Skincare yang Tepat dan Cara Pengelolaan Keuangan pada Komunitas Ibu yang Bekerja di Banjar Geria, Melinggih, Payangan
Pelaksana PKM
Dijelaskannya, melasma adalah kondisi kulit umum yang menyebabkan munculnya bercak cokelat atau abu-abu kecokelatan yang tidak beraturan dan seringkali simetris di wajah, terutama di pipi, dahi, dagu, hidung, dan atas bibir, karena produksi melanin berlebih akibat hormon (kehamilan, pil KB), sinar matahari, dan genetik; ini tidak berbahaya, tetapi bisa memengaruhi penampilan dan kepercayaan diri.
Faktor melasma pada ibu-ibu mitra ditengarai karena faktor profesi. Sebab sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani, peternak, dan pedagang sehingga lebih sering berada diluar ruangan dan terpapar matahari selama bekerja.
"Oleh karena itu, komunitas ibu yang bekerja di banjar ini sangat rentang terkena melasma karena setiap hari terpapar sinar UV. Saat ini komunitas berjumlah sekitar 15 orang, dan seluruhnya menderita melasma," ungkap dr. Shinta.
Melasma terutama memiliki dampak kosmetik bagi para pasien yang menyebabkan tekanan emosional, tidak percaya diri, dan psikososial yang mengakibatkan pasien mencari pengobatan.
Banyaknya produk skincare yang tidak lulus BPOM dapat merusak skin barrier sehingga akan berdampak pula pada melasma. Kurangnya pengetahuan membuat mitra tidak dapat memilih skincare dengan tepat.
Sehingga mitra memerlukan produk skincare yang aman untuk kulit. Sampai saat ini belum ada terapi baku emas untuk melasma, sehingga pencegahan sangat penting.
"Pencegahan yang paling sederhana adalah dengan menggunakan perlindungan diri seperti topi, menggunakan pakaian panjang, menggunakan tabir surya dan pemilihan skincare yang tepat," ungkapnya.
Rendahnya kemampuan pengelolaan keuangan juga menjadi faktor yang memengaruhi sulitnya pencegahan maupun pengobatan melasma pada warga di Banjar Geria, karena warga masih lebih berfokus untuk memenuhi kebutuhan pokok dibandingkan pemenuhan kebutuhan lainnya seperti kesehatan maupun perawatan diri.
Berdasarkan situasi tersebut didapatkan tiga masalah prioritas yang ada pada mitra yaitu kualitas pengetahuan terkait melasma yang kurang, tidak bisa memilih skincare yang tepat dan rendahnya kemampuan pengelolaan keuangan.
Sehingga solusi yang direncanakan yaitu pemberian penyuluhan dan pembagian flyer tentang pencegahan melasma termasuk cara pemilihan skincare yang tepat, pemberian skincare yang aman dan pelatihan penyusunan laporan keuangan.
Upaya pencegahan sederhana, menurut dia bisa dilakukan dengan melindungi kulit dari paparan sinar matahari yang terik dengan mengenakan pakaian lengan panjang, topi, kacamata hitam, dan mengoleskan tabir surya dengan SPF 30 atau lebih serta menggunakan produk perawatan kulit/skincare yang tepat sangat penting dalam mengurangi insiden melasma.
Masyarakat perlu mengetahui informasi yang tepat untuk mengenali gejala, pencegahan, dan mencari pengobatan. Pembagian flyer yang berisikan edukasi dapat membantu mengedukasi masyarakat mengenai melasma dan bagaimana cara mencegahnya.
Melalui pendidikan dan pencegahan yang lebih baik terhadap masyarakat diharapkan angka kejadian melasma dapat ditekan. Penanganan yang komprehensif sangat diperlukan untuk mengatasi tantangan ini dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Berdasarkan hasil wawancara pada mitra, hampir semua ibu-ibu yang bekerja memiliki melasma, mitra juga tidak bisa memilih produk skincare yang tepat dan masih rendahnya tingkat ekonomi karena tidak mampu mengelola keuangan dengan baik (mengatur pendapatan dan pengeluaran) sehingga sering memiliki utang terutama pada akhir bulan.
Tim PkM juga memberikan produk skincare yang tepat serta buku untuk membuat neraca keuangan. "Tujuan akhirnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pungkas dr. Shinta yang notabene spesialis kulit dan kelamin ini.










