Guna memberikan edukasi kepada masyarakat, Agus Dwiatmika menjelaskan bahwa fenomena kemunculan hiu di kawasan ini sebenarnya bukan hal baru, melainkan peristiwa siklus alamiah yang pernah terjadi pada tahun 2013 dan 2019. “Jika objek tersebut benar merupakan hiu, kemungkinan besar adalah jenis blacktip (hiu sirip hitam). Jenis hiu ini dikenal memiliki karakteristik yang cenderung pemalu, selalu menghindari kontak dengan manusia, dan sama sekali tidak dikategorikan sebagai satwa laut yang berbahaya,” ungkapnya.
“Dari sisi ekologis, kehadiran hiu blacktip di dekat perairan pantai umumnya dipicu oleh faktor rantai makanan. Mereka bergerak mendekati pesisir hanya untuk mengikuti jalur plankton serta migrasi kawanan ikan kecil. Hiu jenis ini tidak memangsa manusia, melainkan bertahan hidup dengan mengonsumsi ikan-ikan kecil, cumi-cumi, serta kelompok krustasea (udang dan kepiting). Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk bijak dalam menyaring informasi di media sosial agar tidak memicu kekhawatiran yang tidak mendasar,” imbuhnya.
Menariknya, kehadiran predator puncak seperti hiu di perairan Bali selatan ini justru membawa kabar baik bagi dunia lingkungan. Secara ilmiah, kemunculan mereka menjadi indikator kuat bahwa ekosistem laut dan kualitas perairan di kawasan The Nusa Dua masih terjaga dengan sangat baik dan lestari. Ketersediaan makanan yang melimpah menunjukkan bahwa lingkaran rantai makanan di bawah laut Peninsula masih berfungsi secara seimbang.
Saat ini, aktivitas liburan wisatawan dan operasional kawasan di The Nusa Dua tetap berjalan normal dan kondusif seperti biasa. Pihak ITDC mengimbau agar para pengunjung tetap tenang dan selalu mengikuti arahan dari petugas penyelamat pantai di lapangan. Pemantauan rutin secara berkala akan terus dilaksanakan oleh tim gabungan demi menjamin keamanan, kenyamanan, dan keselamatan seluruh wisatawan yang tengah menikmati keindahan pantai Bali. (M-001)










