”Awalnya induk babi kami tidak mau makan hingga akhirnya lemas. Sempat kami carikan dokter hewan dan disuntik namun tidak ada perubahan. Setelah induk babi kami mati menular ke babi yang lainnya mengalami hal yang sama hingga babi kami habis,”tuturnya lagi sembari menunjukkan kandang babi yang masih terisi satu babi. Setelah babi miliknya mati seminggu yang lalu kemudian dirinya mengubur bangkai babi miliknya disekitaran dekat rumah miliknya.”Bangkai babi saya sudah saya kubur satu minggu yang lalu,”imbuhnya. Disinggung terkait cara pemberian makan, Aria mengaku pakan yang diberikan bukan berasal dari limbah makanan. Melainkan dari campuran dedak dan kangkung yang direbus.
Demikian dengan kebersihan kandang, Aria juga mengklaim selalu dijaga. Untuk itu, ia pun merasa bingung mengapa seluruh babinya itu mati mendadak.”Babi ini memang saya pelihara untuk dikonsumsi sendiri, atau untuk sarana upacara. Kalau punya anak lebih, baru saya jual. Setelah Galungan ini, cucu saya mau tiga bulanan. Rencananya mau nampah, tapi ternyata mati semua,”ucap Aria lirih. Sementara Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta mengatakan, berdasarkan hasil penelusuran, ada 15 ekor babi dewasa yang mati di Desa Bungkulan. Sumiarta pun belum berani memastikan apakah babi yang mati itu akibat terserang virus African Swine Fever (ASF) atau karena penyakit yang lain.
Sebab untuk mengetahui penyebab kematiannya, harus melalui uji lab dari Balai Besar Veteriner Denpasar.”Kami akan mengambil sampelnya untuk dicek,”jelasnya. Kendati dengan adanya kasus ini, Sumiarta menyebut masyarakat tidak perlu khawatir. Karena penyakit yang menyerang babi tidak akan menular ke tubuh manusia, selama proses pengolahan dagingnya dilakukan dengan benar. Untuk mencegah kasus ini menular ke daera lain, Dinas Pertanian Buleleng melalui Tim Reaksi Cepatnya dalam waktu dekat akan turun ke Desa Bungkulan untuk melakukan penyemprotan disinfektan ke kandang-kandang babi milik warga.










