Harmoni Alam dan Budaya, Strategi Baru Penglipuran Menjaga Warisan Lewat Paket Berkunjung

u7-1000472520
Suasana Desa Wisata Penglipuran yang ramai dikunjungi wisatawan.

BANGLI-fajarbali.com | Desa Wisata Penglipuran, yang selama ini dikenal sebagai ikon ketertiban dan keasrian di Bali, resmi memasuki babak baru dalam pengelolaan pariwisatanya. Mulai 1 Januari 2026, desa adat ini memperkenalkan sistem "Paket Berkunjung" sebagai langkah konkret mewujudkan visi pariwisata regeneratif. Kebijakan ini bukan sekadar perubahan teknis administratif, melainkan sebuah pernyataan sikap desa untuk menjaga keseimbangan antara kenyamanan tamu dan kelestarian warisan leluhur.

Langkah transformatif ini menandai pergeseran paradigma Penglipuran dari destinasi yang sekadar menerima kunjungan massal menjadi pengelola pengalaman yang terarah. Desa yang dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia ini ingin memastikan bahwa setiap langkah kaki wisatawan memberikan dampak positif bagi ekologi dan sosial. "Naik kelas" bagi Penglipuran berarti menjadi lebih sadar akan dampak lingkungan dan lebih adil dalam mendistribusikan kesejahteraan bagi masyarakat lokal.

Dalam skema baru ini, wisatawan ditawarkan dua opsi paket utama yang diberi nama unik, "Pelipur Lara". Paket Pelipur Lara 1 dirancang bagi pengunjung yang ingin meresapi suasana otentik desa secara mandiri. Dengan paket ini, wisatawan mendapatkan akses penuh ke jalan utama desa yang ikonik, kesempatan mengeksplorasi arsitektur rumah warga yang khas, hingga menikmati ketenangan di kawasan hutan bambu yang luas.

Tarif untuk Paket Pelipur Lara 1 ditetapkan dengan kategori yang inklusif namun kompetitif. Bagi Wisatawan Mancanegara (WNA), tarif dewasa dikenakan Rp50.000 dan anak-anak Rp30.000. Sementara itu, guna mendukung pariwisata domestik, Wisatawan Nusantara (WNI) dikenakan tarif Rp25.000 untuk dewasa dan Rp15.000 untuk anak-anak, sebuah angka yang dinilai tetap terjangkau bagi publik luas.

Bagi wisatawan yang menginginkan narasi lebih mendalam, tersedia Paket Pelipur Lara 2 yang menawarkan fasilitas pendampingan dari Pemandu Lokal (Local Guide). Dengan adanya pemandu, wisatawan dapat memahami filosofi Tri Hita Karana yang melandasi tata ruang desa secara lebih komprehensif. Paket lengkap ini dibanderol sebesar Rp125.000 (Dewasa) dan Rp100.000 (Anak) untuk WNA, serta Rp75.000 (Dewasa) dan Rp50.000 (Anak) untuk WNI.

BACA JUGA:  CANNA Bali Perkenalkan Tapas dan Cocktail dengan Bahan Lokal Hingga Tawarkan Paket Pernikahan Komprehensif dengan Pemandangan Laut Memukau

Tidak hanya sektor paket wisata, manajemen Desa Penglipuran juga menata ulang biaya parkir untuk meningkatkan kualitas pelayanan transportasi di kawasan tersebut. Tarif baru ditetapkan sebesar Rp10.000 untuk bus, Rp5.000 untuk kategori mikrobus, sedan, maupun jeep, serta Rp2.000 untuk sepeda motor. Penataan ini bertujuan agar alur kendaraan di sekitar desa lebih terorganisir dan tidak mengganggu estetika maupun ketenangan desa.

Kelian Desa Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta, menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari kerinduan untuk melihat pariwisata yang lebih "bernyawa". Ia menekankan bahwa wisatawan tidak boleh hanya sekadar lewat dan mengambil foto, tetapi harus menjadi bagian dari ekosistem yang menghidupkan tradisi. "Setiap kunjungan harus ikut merawat hutan bambu dan menguatkan masyarakat adat kami," tegasnya.

Pendapatan yang diperoleh dari sistem paket ini akan dikelola dengan prinsip transparansi dan tanggung jawab penuh. Prioritas utama penggunaan dana tersebut adalah untuk meningkatkan standar pelayanan agar wisatawan merasa aman dan bermakna. Penglipuran berkomitmen bahwa setiap rupiah yang dibayarkan pengunjung akan berbanding lurus dengan kualitas fasilitas dan kebersihan yang mereka nikmati di lapangan.

Lebih dari sekadar pelayanan teknis, dana tersebut menjadi "napas" bagi pelestarian budaya. Penglipuran berencana mengalokasikan pendapatan untuk menghidupkan kembali tradisi seni, mendukung upacara adat, serta memastikan nilai-nilai luhur desa terwariskan kepada generasi muda. Hal ini penting agar modernitas pariwisata tidak menggerus identitas asli masyarakat Bali yang menjadi daya tarik utama desa ini.

Aspek lingkungan juga menjadi fokus krusial dalam penggunaan dana paket wisata. Perawatan kawasan hutan bambu dan ruang publik akan ditingkatkan melalui sistem pengelolaan sampah yang lebih modern serta berbagai inisiatif penghijauan. Dengan demikian, Penglipuran tidak hanya berupaya meminimalisir dampak negatif pariwisata, tetapi secara aktif berkontribusi pada pemulihan alam dan peningkatan kualitas ekologi secara berkelanjutan.

BACA JUGA:  Karma Kandara Suguhkan Keajaiban Natal dan Tahun Baru dalam "12 Days of Karma: Festive Magic"

I Wayan Budiarta berharap sistem ini menciptakan hubungan timbal balik yang harmonis antara tamu dan tuan rumah. Wisatawan diharapkan merasa bangga karena mengetahui sebagian biaya yang mereka keluarkan digunakan untuk menjaga keberlangsungan desa yang mereka kagumi. "Kami ingin wisatawan memahami cerita di balik setiap sudut desa, sehingga muncul rasa saling menghargai dan memiliki," tambahnya.

Melalui penerapan sistem paket berkunjung ini, Desa Penglipuran optimis dapat menjadi prototipe pariwisata regeneratif di Indonesia. Dengan dukungan dari wisatawan, pelaku perjalanan, dan pemangku kepentingan, Penglipuran tidak hanya sekadar bertahan sebagai destinasi indah, tetapi tumbuh sebagai simbol ketahanan sosial dan budaya. Inilah langkah nyata menuju pariwisata yang tidak hanya mengejar angka kunjungan, tetapi mengejar keabadian nilai. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top