Dan juga upaya yang ia sarankan itu bertujuan untuk melindungi Pura-Pura Kuno yang ada di Bali dan bertujuan juga untuk menyadarkan masyrakat adat Bali yang sering mengganti bangunan peninggalan leluhur tanpa didasari dengan alasan filosofis yang kuat. “Saya bangga dan apresiasi masyarakat Adat yang setia menjaga warisan leluhur, karena Saya berani mengatakan kalau bangunan yang di bangun oleh leluhur itu di bangun dengan tangan-tangan yang suci, yang mana di buat tanpa menggunakan alat-alat mesin kontraktor, dan warisan leluhur itu terbukti kalau kita kunjungi pasti mempunyai taksu ning taksu yang sangat luar biasa,’’ kata AWK.
yang juga merupakan Sekjen Pasemetonan Agung Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori usai melaksanakan persembahyangan bersama ketua Panitia tepat didepan Padmasana Konu di Pura Dalem Poh Tegeh.
Menurutnya, Hindu harus bangkit dengan jati diri leluhur, karena ia katakan apabila warisan leluhur itu dijaga maka keseimbangan alam semesta akan tetap terjaga, dan ia juga sampaikan jangan terpengaruh dengan orang-orang yang ada di luar sana, yang suka membangun Pura megah-megah dan mewah, karena menurutnya Pura itu tidak perlu mewah, biarkan saja berlumutan, sebab yang perlu di jaga ialah taksu ning taksu nya bukan bersaing berlomba-lomba membangun pura yang mewah ataupun megah.
Ia juga sampaikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak minta Pura itu mewah melainkan pura itu tetap dijaga dan sering dilaksanakan upacara suci, maka sebagai umat hindu tugasnya cuma itu saja, dan ia lebih menyarankankan agar warga Desa Adat untuk perbanyak tabungan untuk mengutkan perekonomian masyarakat Adat ketimbang banyak mengeluarkan uang hanya untuk berlomba-lomba membangun pura mewah. (rls)










