“GEMAR” dalam “GATI” dan Cerita Anak yang Tak Selalu Didampingi Ayah

u10-IMG-20251225-WA0000
Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR). (foto/ist). 

DENPASAR-fajarbali.com | GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah) merupakan bagian dari GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia) yang diinisiasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN.

Melalui aktivitas sederhana seperti mengantar anak ke sekolah atau mengambil rapor, gerakan ini menghadirkan pesan yang kuat: ayah diharapkan hadir, peduli, dan terlibat aktif dalam proses pendidikan dan pengasuhan anak sejak dini.

Sebagai bagian dari GATI, GEMAR menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran yang lebih luas tentang pentingnya figur ayah sebagai teladan dalam keluarga. GATI mendorong ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping emosional, pembimbing nilai, dan contoh sikap dalam kehidupan sehari-hari anak.

Selama ini, pengasuhan anak masih sering dipersepsikan sebagai tanggung jawab utama ibu. Ayah kerap diposisikan di pinggir ruang pengasuhan. Melalui GATI—dan GEMAR sebagai salah satu wujud konkretnya—cara pandang tersebut mulai digeser.

Keterlibatan ayah dalam pendidikan anak dipahami sebagai kebutuhan perkembangan, bukan sekadar peran tambahan.

Dalam konteks Bali, peran ayah tidak lahir dari wacana baru, melainkan berakar kuat dalam tradisi dan sistem nilai yang telah diwariskan lintas generasi.

Ayah diposisikan sebagai figur teladan yang menanamkan dharma—nilai kebenaran, kewajiban moral, dan keseimbangan hidup—melalui sikap, keputusan, dan konsistensi dalam menjalankan peran sehari-hari.

Keteladanan ayah tercermin bukan hanya di dalam rumah, tetapi juga dalam keterlibatannya di ruang adat, banjar, dan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Melalui kehadiran ayah dalam upacara adat, kegiatan gotong royong, serta tanggung jawab sosial di komunitas, anak belajar secara konkret tentang makna komitmen, tanggung jawab, dan disiplin.

Nilai-nilai ini tidak diajarkan lewat nasihat semata, melainkan melalui contoh nyata yang dilihat dan dialami anak sejak dini melalui kegiatan-kegiatan adat dan keagamaan yang kental dalam masyarakat Bali. 

BACA JUGA:  Prodi Teknik Sipil Unud Raih Prestasi pada CEIC Session XI 2023

Dalam proses tersebut, ayah menjadi jembatan yang mengenalkan anak pada peran dan identitasnya sebagai bagian dari keluarga sekaligus anggota masyarakat.

Pemahaman inilah yang sejatinya sejalan dengan semangat GATI. GATI menempatkan ayah bukan hanya sebagai simbol otoritas atau pencari nafkah, tetapi sebagai panutan yang hadir, terlibat, dan berperan aktif dalam pembentukan karakter anak. 

Dengan demikian, penguatan peran ayah melalui GATI bukanlah upaya mengubah nilai lokal, melainkan menghidupkan kembali kearifan yang telah lama tumbuh dalam budaya Bali: ayah sebagai teladan yang membimbing dengan keteladanan, bukan dengan jarak.

Respon Masyarakat

Namun, di tengah upaya tersebut, muncul pula respons kritis dari masyarakat. Tidak semua anak memiliki kesempatan didampingi ayah.

Ada anak yang tumbuh bersama ibu tunggal, ada yang orang tuanya menjalani hubungan jarak jauh (LDR), dan ada pula yang kehilangan sosok ayah. Kekhawatiran pun muncul bahwa kampanye GEMAR dapat mengingatkan anak pada ketidakhadiran ayah dan berpotensi melukai perasaan mereka.

Menanggapi hal ini, psikolog klinis Hari Imam Wahyudi, S.Psi, dari Lembaga Psikologi & Hipnoterapi Dian Selaras, menekankan bahwa kunci utama terletak pada cara orang tua yang ada mendampingi dan menjelaskan kondisi keluarga kepada anak.

"Anak tidak membutuhkan keluarga yang sempurna, melainkan keluarga yang jujur dan aman secara emosional," paparnya.

Menghindari atau menyangkal realitas justru dapat membuat anak merasa bingung dan tidak dimengerti. Dalam situasi tersebut, peran ibu—terutama ibu tunggal atau ibu yang menjalani LDR—menjadi sangat penting. Ibu tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga berperan besar dalam membangun rasa aman dan percaya diri anak. 

Penjelasan yang sederhana, jujur, dan penuh kasih membantu anak memahami bahwa kondisi keluarganya bukan sebuah kekurangan. Kalimat seperti, “Kita tetap lengkap, karena kita saling sayang. Hari ini Ibu yang antar sekolah, ya,” dapat memberi ketenangan dan rasa diterima.

BACA JUGA:  Pengabmas FKIP Unmas Perkuat Kompetensi Guru SMP Petra Berkat

Ketika kondisi keluarga tidak memungkinkan ayah hadir secara fisik, esensi keteladanan tetap dapat dijaga melalui komunikasi yang jujur, dukungan emosional yang konsisten, dan lingkungan keluarga yang saling menguatkan.

Dalam hal ini, GATI dan GEMAR tidak dimaksudkan sebagai standar tunggal atau alat penghakiman, melainkan sebagai ajakan reflektif dan inspiratif.

Pada akhirnya, setiap keluarga memiliki cerita dan bentuknya masing-masing. Anak dapat tumbuh sehat dan percaya diri dalam berbagai situasi, selama ia merasa dicintai, didengar, dan didampingi.

Karena yang paling dibutuhkan anak bukanlah keluarga yang terlihat sempurna, melainkan kehadiran orang tua—ayah, ibu, atau keduanya—yang sungguh-sungguh memahami, menguatkan, dan berjalan bersama anak dalam proses tumbuh kembangnya. Penulis: Ari Listiani

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top