MANGUPURA-fajarbali.com | Gelaran Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 kembali mencatatkan rekor partisipasi dengan menghadirkan lebih dari 2.700 peserta dari 67 negara.
Forum bisnis telekomunikasi internasional edisi ke-11 milik TelkomGroup ini menjadi ajang strategis bagi ratusan perusahaan dunia untuk memperkuat rantai pasok infrastruktur digital di tengah masifnya adopsi Kecerdasan Buatan/artificial inteligence (AI).
Direktur Utama Telkom Indonesia, Dian Siswarini, saat Konferensi Pers menyampaikan bahwa lonjakan kepersertaan—termasuk kehadiran pelaku industri dari Amerika Latin—mengindikasikan besarnya daya tarik Indonesia dalam peta digital global.
BATIC tahun ini mencatat lebih dari 760 perusahaan dengan agenda business meeting yang menembus angka 4.000 sesi.
"BATIC adalah persembahan TelkomGroup untuk dunia telekomunikasi dan digital. Proyeksi pasar konektivitas global yang kini bernilai USD 130 miliar diperkirakan menembus lebih dari USD 300 miliar pada 2030. Fokus kami tidak sekadar menghitung transaksi jangka pendek, melainkan membangun kemitraan jangka panjang yang berdampak pada ekosistem secara menyeluruh," ujar Dian dalam sesi Konferensi Pers di The Westin Resort Nusa Dua Bali, Selasa (25/8/2026).
Dian menambahkan, kewajiban Telkom sebagai BUMN adalah menjalankan peran sebagai agent of development sekaligus menjaga return bisnis yang sehat.
Telkom mengalokasikan sekitar 18 hingga 20 persen dari total pendapatan (revenue) untuk investasi infrastruktur digital, seperti jaringan fiber optik, menara telekomunikasi, hingga data center.
Pergeseran Fungsi Jaringan ke Connecting Intelligence
Chief Executive Officer (CEO) Telin, Abdul Rahman Ansyori, menegaskan bahwa perubahan perilaku konsumen, kemajuan cloud, dan AI telah mengubah cara kerja industri secara mendasar. Jaringan telekomunikasi modern dituntut untuk berevolusi.
"Jaringan saat ini tidak lagi sekadar mentransfer informasi, melainkan connecting intelligence. Pertumbuhan ini tidak bisa dikerjakan sendiri, melainkan butuh kolaborasi dari operator, regulator, hingga penyedia platform digital," kata Abdul.
Untuk menopang kebutuhan tersebut, Telin fokus mengamankan tiga koridor utama dunia: rute Indonesia ke Asia, rute Transpasifik (Asia Tengah hingga Amerika), serta rute Asia-Eropa, sembari berekspansi ke Timur Tengah dan Afrika. Dalam mengoperasikan layanan lintas negara di 10 wilayah hukum, Telin berkomitmen menjaga kepatuhan regulasi dan perlindungan data.
Antisipasi Risiko Geopolitik dan Tantangan Supply Chain
Di sisi teknis, Director of Wholesale & International Service Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, menyoroti realitas tingginya kapasitas bandwidth yang tersedot oleh pembangunan data center pendukung AI di Jakarta dan Batam.
"Pembangunan kabel laut butuh waktu hingga lima tahun, namun kapasitasnya kini bisa habis hanya dalam setahun akibat demand AI. Tantangan kian kompleks karena kondisi geopolitik di Timur Tengah, seperti kerawanan di Selat Hormuz. Jika kabel terputus di titik krusial, dampaknya sangat besar bagi konektivitas Asia hingga Eropa," jelas Budi.
Guna memitigasi risiko tersebut, peta industri kini bergeser dari penyediaan rute ganda (redundancy) menjadi 4 hingga 5 rute alternatif. Situasi perdataan global—termasuk dinamika geopolitik kawasan—justru membuka peluang emas bagi Indonesia.
"Posisi perairan Indonesia menjadi sangat penting sebagai jalur alternatif yang aman. Ini saatnya kita mengambil peluang untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai regional hub konektivitas digital dunia," pungkasnya. [gde]










