Laksamana Iwan menyakini kapal tersebut tidak meledak. Bila meledak berarti saat itu juga pasti berhamburan dan muncul permukaan. Tapi sampai saat ini belum ada benda yang muncul di permukaan laut. "Kalau meledak pasti diketahui oleh kapal penjejak. Karena kapal KRI Nanggala-402 selam saat memasuki tahap keempat dalam latihan itu. Kapal tersebut tenggelam murni karena kecelakaan," sebutnya.
Ia kembali mengungkapkan berat kapal itu 1.300 ton dan sanggup mengisi air 1.450 ton. Kalau black out tidak sampai 10 detik sudah mencapai kedalaman 100 meter. Artinya 10 meter perdetik kecepatan tenggelamnya. Akibatnya patah, karena kecepatan tinggi, alami deformasi, dan akhirnya berada di dasar laut.
"Hingga hari ini belum ditemukan satu jenazah. Dengan tidak ditemukan awak kapal maka kemungkinan para awak kapal ada di bagian badan tekan yang belum ditemukan itu. Kita tidak tau apa penyebab kejadian ini. Kalau di pesawat ada black box. Alat alutsista tidak memiliki itu," pungkasnya.
Diberitakan, Kapal Selam KRI Nanggala-402 milik TNI AL ini hilang di perairan Bali Utara saat latihan penembakan torpedo, Rabu 21 April 2021 subuh. Kapal selam buatan Jerman tahun 1979 yang hilang kontak sejak pukul 05.30 Wita ini, berisi 53 prajurit TNI. Setelah dilakukan serangkaian pencarian akhirnya Minggu (25/4) KRI Nanggala-402 dinyatakan tenggelam dan 53 prajurit di dalamnya dinyatakan gugur. (hen)










