Ia meyakinkan bahwa solidaritas sesama akademisi sekaligus pimpinan perguruan tinggi tetap terjalin dengan baik selamanya. Tidak bisa diganggu oleh hal apapun.
Senada, Prof. Suarta menyampaikan, jika dillihat sebagai perusahaan, semestinya hubungan antar- PTS merupakan kompetitor atau saingan. Tetapi Prof. Suarta tidak melihat aroma persaingan antar-PTS, khususnya di Wilayah VIII.
“Ibarat orang jualan di pasar. Satu jenis dagangan berjejer, sekarang tergantung pembeli memilih yang mana. Kita sebagai pedagang harus bersaing sehat. Tidak saling menjatuhkan,” ungkapnya.
“Apalagi kita di dunia pendidikan tinggi memiliki tugas yang sama, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa,” imbuh Prof. Suarta.
Kepala LLDikti VIII Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU, ASEAN. Eng., APEC., Eng., menambahkan, akselerasi guru besar memang menjadi salah satu prioritas LLDikti VIII.
Jumlah dosen dengan jabatan fungsional guru besar (professor) di wilayahnya saat ini berjumlah 0,9. Padahal untuk mencapai katagori unggul dibutuhkan setidaknya 2 persen profesor. Sedangkan dosen dengan jabatan lektor kepala sudah di atas 5 persen alias sudah melampaui batas ketentuan.
Untuk itu, pihaknya terus memotivasi dosen-dosen yang sudah memenuhi syarat ke guru besar segera berproses demi menjaga mutu akademik.
“Kami membawahi 104 PTS. Di Bali ada 51 dan NTB 53. Kami terus berupaya agar tercapai target 2 persen guru besar mengingat potensi yang cukup melimpah,” pungkasnya. (gde)










