Empat Profesor di Bali Refleksikan Hardiknas 2026

IMG-20260502-WA0001
(kiri-kanan): Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum., Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA., Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, MM., M.Hum., Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., CIRR.

HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 diperingati pada Sabtu, 2 Mei 2026. Tema tahun ini berfokus pada "Menguatkan Partisipasi Semesta demi Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua". Peringatan diisi dengan upacara bendera, penggunaan twibbon, dan berbagai kegiatan edukatif yang serentak di seluruh satuan pendidikan di Tanah Air. 

Empat pemikir Bali memberikan padangannya pada Hardiknas tahun ini. Mereka adalah akademisi sekaligus menjabat rektor di perguruan tinggi masing-masing, diantaranya:

Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, MM., M.Hum (Rektor Universitas Ngurah Rai), Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., CIRR. (Rektor Universitas Dhyanapura), Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum (Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia), Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA. 

Berikut pemikiran empat akademisi yang mendapatkan jabatan akademik guru besar hampir bersamaan tersebut:

1. Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., CIRR.

Dari Kesetaraan Sosial Menuju Global Talenta: Evolusi Arah Pendidikan Indonesia

PENDIDIKAN Indonesia lahir dari semangat perjuangan melawan ketimpangan. Pada masa sebelum kemerdekaan, pendidikan menjadi alat pembebasan untuk menegakkan kesetaraan martabat manusia di tengah stratifikasi sosial yang kaku antara kaum tani, pedagang, bangsawan, hingga kaum menir. 

Akses pendidikan yang terbatas saat itu justru melahirkan kesadaran kolektif bahwa pengetahuan adalah jalan untuk keluar dari belenggu ketidakadilan.

Pasca-kemerdekaan hingga era Orde Baru, arah pendidikan bergeser menjadi instrumen pemersatu bangsa. Fokusnya adalah pemerataan akses dan kesempatan belajar, khususnya untuk menjembatani kesenjangan antara Pulau Jawa dan luar Jawa. 

Pendidikan tidak lagi sekadar membebaskan individu, tetapi juga membangun identitas nasional dan memperkuat kohesi sosial. Namun, pendekatan yang cenderung sentralistik kerap menyisakan tantangan dalam kualitas dan relevansi pendidikan.

Memasuki era Reformasi, pendidikan Indonesia dihadapkan pada realitas globalisasi. Kesetaraan tidak lagi hanya dimaknai dalam konteks nasional, tetapi juga dalam persaingan antarbangsa. Ironisnya, peningkatan jumlah lulusan tidak selalu diiringi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai, menciptakan fenomena oversupply tenaga terdidik. Di sinilah urgensi transformasi pendidikan menjadi nyata.

Hari ini, misi pendidikan tidak cukup hanya mencetak lulusan, tetapi harus mampu membentuk global talent individu yang adaptif, inovatif, dan kompetitif di tingkat internasional. 

Penguatan kompetensi abad ke-21, literasi digital, serta keterkaitan erat antara dunia pendidikan dan industri menjadi kunci. Pendidikan harus bergerak dari sekadar pemerataan akses menuju pemerataan kualitas dan relevansi.

Momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi refleksi bahwa perjalanan pendidikan Indonesia adalah perjalanan menuju kesetaraan yang terus berevolusi dari kesetaraan sosial, nasional, hingga global. Tantangan ke depan bukan hanya bagaimana mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi bagaimana memastikan setiap insan terdidik mampu berkontribusi dan bersaing di panggung dunia.

BACA JUGA:  Guru di Sekolah Inernasional Ini, Lulusan Perdana Prodi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UPMI Bali

2. Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, MM., M.Hum

Perguruan Tinggi Regeneratif

PERGURUAN Tinggi Regeneratif atau Regenerative Higher Education adalah lompatan besar dari sekadar kampus yang "hijau" atau "berkelanjutan".

Jika kampus "sustainable" fokus pada meminimalkan dampak negatif (seperti mengurangi plastik atau emisi), kampus "regeneratif" bertujuan untuk secara aktif memulihkan, memperbarui, dan meningkatkan kesehatan sistem sosial serta ekologi di sekitarnya.

Berikut adalah penjabaran konsepnya: dari 'Sustainable' ke 'Regenerative'

Perbedaan mendasarnya terletak pada paradigma berpikir. Keberlanjutan (Sustainability):

Berusaha menjaga status quo agar lingkungan tidak semakin rusak. Slogan utamanya: "Do no harm" (Jangan merusak).

Regeneratif: Berusaha memperbaiki apa yang sudah rusak dan menciptakan nilai tambah bagi kehidupan. Slogan utamanya: "Place as a living system" (Tempat sebagai sistem yang hidup).

Pilar Utama Perguruan Tinggi Regeneratif

Kampus sebagai Laboratorium Hidup atau Living Lab, Gedung dan fasilitas bukan sekadar benda mati. Kampus regeneratif didesain agar: Menghasilkan energi lebih banyak daripada yang dikonsumsi (Net Positive), Mengelola limbah secara sirkular (sampah menjadi nutrisi atau bahan baku kembali), Menjadi koridor bagi keanekaragaman hayati lokal.

Kurikulum yang Terhubung dengan Realitas.

Pendidikan tidak lagi tersekat dalam sekat-sekat teori (siloisasi). Mahasiswa diajak untuk:

Pola Pikir Sistem (Systems Thinking): Memahami keterkaitan antara ekonomi, budaya, dan alam.

Transdisipliner: Memecahkan masalah nyata di komunitas sekitar sebagai bagian dari nilai kredit semester.

Kecerdasan Ekologis: Menumbuhkan empati terhadap semua bentuk kehidupan, bukan hanya manusia.

Hubungan Timbal Balik dengan Masyarakat

Perguruan tinggi tidak boleh menjadi "Menara Gading" yang terisolasi. Dalam konsep regeneratif: Kampus menjadi penggerak ekonomi lokal.

Ilmu pengetahuan yang dihasilkan harus bisa langsung "menyehatkan" komunitas di sekitarnya (misal: pemurnian air sungai di sekitar kampus atau pemberdayaan petani lokal).

Kesejahteraan Manusia (Well-being)

Regenerasi juga berlaku untuk manusianya. Kampus regeneratif memperhatikan:

-Kesehatan mental mahasiswa dan staf.

-Lingkungan kerja yang kolaboratif, bukan kompetitif yang toksik.

 -Keadilan sosial dan inklusivitas sebagai pondasi utama.

3. Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum

Kesejahteraan Guru, Fondasi Nyata Transformasi Pendidikan

SETIAP tahun, peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum refleksi bagi bangsa Indonesia untuk menilai kembali arah dan kualitas pembangunan pendidikan.

Namun refleksi tersebut akan selalu terasa kurang lengkap jika persoalan mendasar tentang kesejahteraan guru belum benar-benar menjadi prioritas utama kebijakan.

Sebab, berbicara tentang pendidikan bermutu tanpa memperkuat kesejahteraan guru sama halnya dengan membangun rumah tanpa memperkokoh pondasinya. 

BACA JUGA:  Mahasiswa Jangan Jadi Beban Pembangunan Negara

Guru adalah ujung tombak pendidikan. Mereka bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi pembentuk karakter, penanam nilai, sekaligus pendamping tumbuh kembang generasi muda. 

Dalam konteks perubahan zaman yang semakin cepat—terutama di era digital—peran guru justru semakin kompleks. Guru dituntut kreatif, adaptif, inovatif, dan mampu memanfaatkan teknologi pembelajaran.

Sayangnya, tuntutan tersebut belum selalu diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan yang memadai dan merata.

Kesejahteraan guru tidak boleh dipahami sebatas peningkatan gaji semata. Memang, penghasilan yang layak adalah kebutuhan mendasar agar guru dapat bekerja dengan fokus dan bermartabat. 

Namun lebih dari itu, kesejahteraan juga mencakup kepastian status kepegawaian, kesempatan pengembangan kompetensi, fasilitas kerja yang memadai, serta penghargaan sosial terhadap profesi guru. Tanpa dukungan tersebut, sulit berharap lahirnya inovasi pembelajaran yang konsisten di ruang-ruang kelas.

Masih banyak guru yang menghadapi tantangan nyata dalam menjalankan tugasnya, terutama di daerah terpencil dan wilayah dengan keterbatasan sarana pendidikan. Mereka bekerja dengan dedikasi tinggi meskipun fasilitas terbatas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa semangat pengabdian guru Indonesia tidak diragukan. Namun semangat saja tidak cukup. Negara dan masyarakat perlu hadir memberikan dukungan nyata agar pengabdian tersebut tidak berjalan dalam keterbatasan yang berkepanjangan.

Peningkatan kesejahteraan guru juga berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Guru yang merasa dihargai akan memiliki motivasi lebih tinggi untuk meningkatkan kompetensi diri, mencoba metode pembelajaran baru, serta membangun hubungan yang lebih positif dengan peserta didik.

Sebaliknya, jika kesejahteraan terabaikan, maka potensi besar dalam diri guru berisiko tidak berkembang secara optimal. Pada akhirnya, peserta didiklah yang ikut merasakan dampaknya.

Lebih jauh lagi, investasi pada kesejahteraan guru merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pendidikan yang kuat tidak lahir dari kebijakan yang bersifat simbolik, melainkan dari perhatian yang konsisten terhadap pelaku utamanya.

Guru yang sejahtera akan melahirkan generasi yang percaya diri, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Karena itu, momentum peringatan Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Ia perlu menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan harus dimulai dari keberpihakan yang nyata kepada guru.

Ketika kesejahteraan guru diperkuat secara berkelanjutan dan merata, maka harapan menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua bukan lagi sekadar slogan, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan bersama. 

4. Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA. 

Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Saraswati: Pendayagunaan IPTEK dalam Era Modernisasi

PENDIDIKAN merupakan suatu proses transformasi pengetahuan, nilai, norma, tradisi, dan keterampilan untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi, keterampilan, kecerdasan, dan akhlak guna mewujudkan kepribadian yang berkarakter, bertanggung jawab, peduli, dan mandiri, dalam kehidupan di masyarakat serta bermanfaat bagi bangsa dan negara.

BACA JUGA:  Pencetus Tabungan Yadnya BNI Raih Doktor

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tahun, di Bali secara lokal sangat relevan dengan Hari Suci Saraswati, yaitu sebagai penghormatan kepada Dewi Saraswati, yang telah melimpahkan pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan untuk menuju suatu kemajuan, keharmonisan, dan membebaskan manusia dari kebodohan (avidyam).

Bagi kita bersama dan khususnya anak-anak dan generasi muda sebagai pewaris bangsa didorong untuk memiliki karakter yang dilandasi oleh nilai-nilai moral, etika dan agama melalui proses pendidikan sejak usia dini sampai pada pendidikan tinggi. 

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era modernisasi yang sedang terjadi dan tantangan ke depan yang semakin kompleks dan dinamis, menuntut generasi muda untuk semakin meningkatkan kualitas pendidikan untuk membentuk kepribadian yang kuat, jujur, disiplin dan berakhlak di dalam mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dimilikinya.

Pendayagunaan IPTEK di kalangan generasi muda agar didasarkan pada kekuatan mental yang fundamental di dalam mengimplementasikan moral knowing, moral feeling dan moral action sebagai kendali penggunaan IPTEK yang tidak benar.

Pemerintah, orang tua dan stakeholder agar memfasilitasi proses pendidikan di masyarakat baik dalam bentuk pendidikan formal, pendidikan non-formal maupun informal melalui berbagai kebijakan atau regulasi dan memberikan keteladanan yang baik kepada generasi muda.

Kurikulum pendidikan agar menekankan pada aspek akhlak di dalam setiap mata pelajaran, mata kuliah dan materi-materi pembelajaran sehingga mampu membentuk kepribadian yang utuh pada peserta didik dan mahasiswa, yaitu tidak semata-mata menjadikan mereka cerdas akademik tetapi juga memiliki kemuliaan akhlak.

Melalui integrasi nilai-nilai moral, etika dan agama dalam kurikulum, sangat diharapkan dapat mengembangkan potensi peserta didik dan mahasiswa baik secara individu maupun kolektif untuk mampu memperkuat nilia-nilai pekerti, menyaring nilai-nilai budaya asing yang masuk.

Oleh karena itu, pendidikan yang efektif bagi generasi muda (peserta didik dan mahasiswa) tidak hanya sekadar dimaknai sebagai transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga meliputi aspek penghayatan dan pengamalan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan keharmonisan sebagai manifestasi tri hita karana dan refleksi Hari Suci Saraswati dalam mendayagunakan IPTEK untuk mewujudkan kemuliaan hidup, menciptakan kedamaian, dan keharmonisan.***

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top