Head of Aesthetics idsMED Indonesia Marisa Theresia, mengatakan tingginya minat terhadap teknologi estetika juga tercermin dari penerimaan pasar di kota lain.
Salah satu klinik pengguna pertama teknologi Xerf di Surabaya, katanya, telah melayani sekitar 500 tindakan perawatan dalam waktu tiga bulan sejak mulai beroperasi. Capaian itu menunjukkan bahwa permintaan terhadap perawatan skin tightening memang sedang tumbuh.
Pada kesempatan yang sama, Vice President idsMED Aesthetics Indonesia Andy Rahardja, mengungkapkan, meningkatnya minat masyarakat terhadap perawatan estetika mendorong pelaku usaha berani berinvestasi pada teknologi premium.
Bali dinilai menjadi salah satu pasar yang menjanjikan, tidak hanya karena permintaan dari masyarakat lokal, tetapi juga didukung besarnya potensi wisata medis (medical tourism) dan wisata kebugaran (wellness tourism).
Andy memaparkan hasil risetnya yang menunjukkan pasar estetika tumbuh sekitar 15 persen per tahun. Pertumbuhan terbesar terjadi pada segmen skin tightening. "Itu sebabnya kami melihat investasi di teknologi ini memiliki prospek yang baik," jelas Andy.
Ia menambahkan Bali memiliki karakteristik pasar yang berbeda dibandingkan daerah lain. Selain melayani pasien domestik, Bali juga menjadi tujuan masyarakat mancanegara yang umumnya telah memiliki pengalaman menjalani perawatan estetika di negara asalnya.
"Mereka memiliki standar yang tinggi. Tidak hanya menginginkan hasil perawatan yang baik, tetapi juga mengutamakan kenyamanan, minim masa pemulihan, dan teknologi yang didukung bukti klinis," imbuh dia.










