Menariknya, Edi Wirawan menekankan sektor pertanian, khususnya petani tidak boleh dijadikan sebagai objek politik, melainkan menjadi subjek utama penopang utama swasembada pangan. Rincinya HKTI siap mengawali pertanian dari hulu sampai hilir. “Hulu, tengah, hilir. SOP penanaman di hulu harus dilakukan, proses di tengah, di hilir jaga harga agar tidak anjlok, di situlah HKTI akan berada,” tegasnya sembari menekankan petani harus memelihara kelestarian alam dan saat alam lestari maka pariwisata akan menjadi bonus.
“Kita harus bisa menjaga lingkungan seperti komitmen Presiden Ke-5 Republik Indonesia, Ibu Megawati Soekarnoputri. Kita harus merawat bumi sehingga kelestarian alam mampu memberikan kesejahteraan. HKTI Bali mendukung penuh kebijakan nasional dalam rangka menjaga alam dan swasembada pangan,” tandasnya penuh keyakinan.
Merespons fenomena riil soal regenerasi petani, Edi Wirawan tak menampik petani tidak diminati oleh generasi muda. Ungkapnya, ke depan, Sinergi HKTI akan menggali pengolahan pertanian sehingga sektor ini menjadi magnet bagi kaum muda. Lebih jauh, pihaknya akan konsisten mendorong regenerasi petani tidak dimulai dari umur 50 tahun, tetapi mulai dari usia muda.
“Mari kita gugah semangat anak muda menjadi petani di daerahnya sendiri. Sebagaimana pesan Presiden Ir. Soekarno, 27 April tahun 1952 saat peletakan batu pertama Fakultet Pertanian UI di Bogor. Soekarno sudah mencanangkan kedaulatan pangan, khususnya beras. Berseru Soekarno jadikanlah bangsamu ini bangsa yang kuat, bangsa yang merdeka dalam arti merdeka yang sebenar-benarnya! Buat apa kita bicara tentang ‘politik bebas’ kalau kita tidak bebas dalam urusan beras, yaitu selalu harus minta tolong beli beras dari bangsa-bangsa tetangga? … Buat apa kita membuang deviezen bermilyun-milyun tiap-tiap tahun untuk membeli beras dari negara lain, kalau ada kemungkinan untuk memperlipatganda produksi makanan sendiri?” tutup Edi Wirawan.










