Lebih jauh pihaknya mengatakan, pengumpulan data dilakukan melalui survei, observasi, serta wawancara dengan tokoh masyarakat setempat, seperti Dane Pengrajeg Catur Desa Adat Dalem Tamblingan. Survei dan observasi dilaksanakan di sejumlah lokasi penting di sekitar Danau Tamblingan, termasuk Pura Dalem Tamblingan, Pura Endek, dan Pura Embang.
“Hasil survei mengidentifikasi beberapa potensi OPK yang signifikan, antara lain Ritual Karya Alilitan, yang merupakan upacara pemuliaan air Danau Tamblingan, serta Lontar Babad Hindu Gobleg sebagai salah satu manuskrip penting. Selain itu, terdapat seni Tari Mendet Taksu dan Gong Duwe, adat istiadat terkait Struktur Organisasi Dresta Kuna, serta ODCB berupa prasasti, lingga yoni, altar, dan lumpang batu yang tersebar di berbagai pura di sekitar danau,”ucapnya.
Menariknya, hasil survei juga menemukan keterkaitan langsung antara subak di Kabupaten Tabanan dengan Danau Tamblingan. Ritual ‘ngaturang sarin tahun’ yang dilaksanakan setiap Kembang Sasih Kapat tahun ganjil di Pura Gubug menjadi simbol penghormatan subak Tabanan terhadap Danau Tamblingan sebagai sumber air yang menopang aktivitas pertanian di daerah hilir.
Di samping itu, diskusi juga dilakukan dengan I Nyoman Wardi staf pengajar dari Program Studi Arkeologi FIB Universitas Udayana, yang menekankan pentingnya Tamblingan sebagai zona penyangga (buffer zone) dalam lanskap budaya Catur Angga Batukaru.”Dengan hasil ini, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV berharap dapat mendukung pelestarian Lanskap Subak secara lebih komprehensif dan memastikan bahwa kekayaan budaya di kawasan Danau Tamblingan tetap terjaga sebagai warisan dunia,”tutupnya. @gus










