Ia melanjutkan, anak yang menderita stunting menunjukkan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan, rentan terhadap penyakit infeksi dan degenerative, hambatan perkembangan kognitif yang berdampak terhadap produktifitas anak dimasa depan.
Upaya pencegahan stunting sangat penting dilakukan. Salah satunya adalah dengan mengupayakan pemberian ASI (Air Susu Ibu) secara ekslusif atau hanya ASI saja selama 6 bulan tanpa tambahan makanan atau minuman lain.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI secara ekslusif dapat mencegah anak mengalami stunting. Sedangkan anak yang tidak mendapatkan ASI ekslusif berisiko 8 kali lebih besar untuk menderita stunting.
"Tetapi sayangnya pemberian ASI secara eklusif tidak selalu mulus dan lancar, beberapa hambatan sering dialami oleh ibu. Bayi yang sering menangis, ASI yang tidak lancar, hingga ibu yang memutuskan kembali bekerja merupakan tantangan dan hambatan yang sering dialami ibu selama proses menyusui. Hal ini sering kali mengakibatkan bayi akhirnya diberikan makanan lain selain ASI sebelum berusia 6 bulan," urainya.
Dwi Purnamayanti berpendapat, kader kesehatan merupakan anggota masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan.
Kelompok ini merupakan anggota masyarakat yang memiliki potensi besar dapat membantu masyarakat menangani isu kesehatan termasuk mencegahan stunting melalui pemberian ASI ekslusif.
Kelompok kader perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai sehingga dapat membantu masyarakat sekitarnya khususnya ibu menyusui untuk dapat memberikan ASI secara ekslusif.










