DENPASAR-fajarbali.com | Kolaborasi seniman Bali dan Korea Selatan menjadi salah satu warna baru dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Seniman Bali bersama Seoul Institute of the Art menghadirkan karya drama tari Godogan yang memadukan kekuatan seni tradisi Bali dengan sentuhan budaya Korea.
Garapan kolaboratif ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan budaya kedua negara melalui seni. Tidak hanya menghadirkan pertunjukan, kerja sama tersebut juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan kreativitas bagi seniman muda Bali dan Korea Selatan.
Founder Seoul Institute of the Art, Yoo Duk Hyung atau Mr. Yoo, mengatakan ketertarikannya terhadap Bali menjadi dasar terjalinnya kerja sama dengan ISI Bali. Menurutnya, kekayaan seni dan budaya Bali memiliki nilai universal yang mampu menjembatani hubungan antarbangsa.
Yoo Duk mengaku mencintai Bali, masyarakatnya, dan keseniannya. Karena itu pihaknya ingin membangun kerja sama yang berkelanjutan dengan ISI Bali.
"Bagi kami, tari Kecak sebagai salah satu karya seni Bali memiliki filosofi kuat tentang kebersamaan. Melalui pola pertunjukan yang melibatkan banyak orang dalam satu harmoni, Kecak dinilai mencerminkan semangat kolaborasi dan persatuan," ujar Yoo Duk, kepada awak media, Rabu (8/7).
Presiden Seoul Institute of the Art, Chang Ji Hyung, menyampaikan kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk terus mengembangkan karya seni baru yang mempertemukan tradisi Bali dan Korea.
“Kami sangat terkesan dengan budaya Bali. Kerja sama ini akan terus dilanjutkan untuk mencari bentuk-bentuk kesenian baru,” katanya.
Pada kesempatan yang sama koreografer sekaligus budayawan Prof. Dr. I Wayan Dibia, menjelaskan proses kolaborasi telah berlangsung melalui pertukaran akademik antara kedua institusi. Seniman Bali memperkenalkan unsur-unsur tari Bali, mulai dari gerak, musik, hingga karakter ekspresi kepada mahasiswa Seoul Institute of the Art.
Dibia menyebut, proses penciptaan karya bersama tidak lepas dari berbagai tantangan karena masing-masing budaya memiliki karakter dan pakem tersendiri. Namun, perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan dalam melahirkan karya baru.
“Dari proses pertemuan budaya inilah muncul pemahaman baru. Seni menjadi media yang efektif untuk mempererat hubungan antarbangsa,” ungkap Dibia.
Drama tari Godogan menjadi hasil kolaborasi yang mengangkat kisah perjalanan penyucian diri hingga perubahan seorang tokoh menjadi sosok yang lebih baik. Cerita tersebut kemudian dikemas dengan perpaduan unsur seni Bali dan Korea.
Dalam proses produksinya, sebanyak 25 seniman Korea Selatan berkolaborasi dengan 15 mahasiswa ISI Bali. Proses latihan dilakukan secara bergantian di Bali dan Korea Selatan.
Di sisi lain, Prof. Dr. I Made Bandem, mengatakan keterlibatan Seoul Institute of the Art dalam PKB 2026 memiliki makna penting dalam perjalanan hubungan budaya Bali dan Korea Selatan. Menurutnya, kerja sama ini melanjutkan hubungan kebudayaan yang telah terbangun sejak lama, termasuk dengan Pulau Jeju.
Kehadiran pihak Korea menurut Bandem, memperkuat posisi Bali sebagai ruang pertemuan budaya dunia. "Melalui seni, kita dapat saling belajar dan memperluas jejaring kebudayaan internasional,” kata Bandem.
Kolaborasi seniman Bali dan Seoul Institute of the Art menjadi bukti bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi budaya, tetapi juga menjadi jembatan persahabatan antarnegara.
Kolaborasi dari Seoul Institute of the Art berkolaborasi dengan mahasiswa Bali, mempersembahkan Drama Tari Godogan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.
Pementasan yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar pada Rabu (8/7) malam, sukses menyedot penonton yang memenuhi deretan kursi di gedung ini.
Mereka tampak antusias menyaksikan kolaborasi seniman Bali dengan seniman Korea Selatan ini.
Seniman Bali bersama Seoul Institute of the Art menghadirkan karya drama tari Godogan yang memadukan kekuatan seni tradisi Bali dengan sentuhan budaya Korea
Persembahan pertama diawali dengan tetabuhan berjudul, Bayu Nada. Pementasan kolaborasi ini, mempertontonkan gamelan Bali berpadu apil dengan alat musik Korea.
Tiupan suara suling diiringi dentuman gendang berpadu apik dengan gamelan gong Bali. Terkadang terdengar menghentak, dan sesaat kemudian mengalun merdu.
Sebagai puncak, mahasiswa dari Negeri Ginseng dan Pulau Dewata mementaskan Pangeran Kodok ‘Prince Frog’. Garapan ini disajikan bagaimana seekor kodok melakukan penyucian diri untuk menemukan wujud aslinya sebagai manusia. [gde]










