Secara musikal, album ini secara tegas berada dalam koridor jazz. Format klasik piano trio menjadi fondasi, sementara improvisasi menjadi ruh utama. Enam nomor yang dimuat terdiri dari tiga komposisi orisinal dan tiga standar jazz. Dalam prosesnya Dodot memang didorong oleh rekan satu tim untuk tidak sekadar merekam nomor jazz standar, melainkan menghadirkan materi baru sebagai penanda identitas.
Pendekatan yang dipilih pun cenderung organik dengan nuansa live recording di Antida Sound Garden. Setelah latihan singkat, mereka langsung merekam materi secara langsung dalam satu ruang, menangkap interaksi real time antar pemain.
Alih-alih membangun aransemen yang kaku, Dodot memberi ruang dialog terbuka di antara piano, double bass, dan drum sehingga dinamika lahir secara alami di tempat.
“Aku nggak pernah ngatur mereka. Kita coba-coba, langsung terjadi,” ujarnya, menegaskan bahwa energi spontan dan respons antarpemain menjadi inti dari proses live recording tersebut.
Dari sisi estetik album, The Story of White Piano berakar pada tradisi jazz modern yang membuka ruang improvisasi luas. Hal ini terasa dalam kebebasan ritmis dan eksplorasi harmoni yang Dodot lakukan. Meski demikian, ia secara sadar tidak memilih jalur bebop yang terlalu kompleks. Ia menempatkan album ini dalam spektrum tradisional jazz dengan pendekatan yang lebih komunikatif.
Pertimbangan tersebut lahir dari refleksinya terhadap perkembangan jazz yang kerap menjadi terlalu teknis. “Semakin rumit, semakin sulit, dia semakin enjoy. Tapi itu meninggalkan pendengarnya,” ujarnya. Karena itu, ia memilih menurunkan tensi permainan agar tetap dapat diikuti, tanpa kehilangan esensi improvisasi.










