SEMARAPURA-fajarbali.com | Di tengah denyut Bulan Bahasa Bali VIII, sebuah warisan intelektual dari abad ke-17 kembali “berbicara”. Tim Penyuluh Bahasa Bali Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menemukan lontar kuno bertahun 1615 Saka berjudul Bhagawan Kamandaka saat Festival (Utsawa) Konservasi Lontar di Geria Kutuh Kawanan, Desa Kamasan, Klungkung, Selasa (10/2/2026).
Lontar yang memuat ajaran ilmu kepemimpinan dan tata kenegaraan itu diyakini sebagai koleksi tertua di Geria Kutuh. Menariknya, meski telah berusia ratusan tahun, kondisi fisik lontar masih terjaga dengan sangat baik, dengan aksara yang tetap jelas terbaca.
Penata Layanan Operasional sekaligus Penyuluh Bahasa Bali Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Ari Wijaya, menjelaskan Geria Kutuh menyimpan lebih dari 200 lontar, namun keterbatasan waktu membuat tim baru mampu melakukan konservasi pada sekitar 100 lontar.
“Fokus kegiatan kali ini adalah konservasi, belum sampai tahap identifikasi menyeluruh. Itu akan kami lanjutkan di kesempatan berikutnya,” ujarnya.
Proses konservasi dilakukan oleh sekitar 45 penyuluh bahasa Bali dengan membersihkan debu lontar serta merawatnya menggunakan minyak sereh, metode tradisional yang aman untuk menjaga keawetan daun lontar. Ketebalan tiap cakep lontar membuat proses ini memerlukan ketelitian dan waktu yang tidak singkat.
“Setiap lontar perlu perlakuan khusus. Ada yang cukup tebal, sehingga pengerjaannya tidak bisa tergesa-gesa,” kata Ida Bagus Ari Wijaya.
Selain Bhagawan Kamandaka, tim juga mencatat adanya lontar-lontar lain yang diperkirakan berasal dari periode 1920–1940-an, berisi beragam pengetahuan tradisional Bali, seperti mantra, tutur, kanda, usada, kakawin, dan wariga.
Secara historis, lontar Bhagawan Kamandaka memiliki keterkaitan erat dengan Ida Pedanda Kerta, tokoh yang pada masanya menjabat kerta atau setara kepala pengadilan, serta dikenal memiliki hubungan dekat dengan Puri Klungkung, baik sebelum maupun setelah peristiwa Puputan Klungkung.
“Penyimpanan lontar di sini sangat baik. Ada ruang khusus, dan lontar juga rutin diupacarai saat Hari Raya Saraswati. Kerusakan yang ada lebih karena faktor usia,” tambahnya.
Sementara itu, panglingsir Geria Kutuh, Ida Bagus Ketut Suardana, menyambut baik kegiatan konservasi yang dilakukan pemerintah provinsi.
“Kami sangat mengapresiasi upaya ini. Konservasi lontar bukan hanya menjaga benda fisik, tetapi juga melestarikan pengetahuan dan nilai leluhur Bali,” ujarnya.
Melalui Festival Konservasi Lontar ini, lontar-lontar kuno tidak hanya dirawat, tetapi kembali ditegaskan sebagai sumber peradaban dan jati diri budaya Bali yang relevan lintas zaman.










