Diungkapkan, sulitnya memberantas penyakit rabies ini karena peredaran anjing sulit di pantau. Selain itu, budaya masyarakat masih memelihara anjing dengan meliarkan. Dan ini berpeluang terkontaminasi anjing-anjing liar yang ada kemungkinan membawa virus, terlebih anjing yang tidak pernah di vaksin. Di samping itu, dalam setiap program vaksinasi anjing partisipasi masyarakat memvaksin anjingnya sangat rendah. Terkecuali jika sudah ditemui kasus positif rabies, baru masyarakat merasa perlu memvaksin anjing piaraanya. “Pengalaman kami dari empat desa yang ditemui kasus rabies, partisipasi masyarakat cukup bagus vaksin piaraannya,” ujarnya.
Penyebaran rabies juga terjadi karena ada anjing di daerah terdampak yang luput divaksinasi. Dan lepas ke desa tetangga, dan di desa tetangga menularkan virus. Kasus seperti ini sudah terjadi di Gianyar. Untungnya sekarang kerja sama antara Puskesmas dengan Distan cukup baik. Begitu ada warga yang digigit anjing di rawat di Puskesmas, pihak Puskesmas langsung melaporkan. Dan Distan langsung turun mengambil sampel ajing untuk dilakukan uji lab. Dengan demikian, penanganan bisa dilakukan lebih cepat.(gds).










