Pelatihan bahasa Jepang ini tidak dipungut biaya alias gratis sepenuhnya. Karena keterbatasan tempat dan instruktur, pelatihan dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama dilaksanakan pada 11 Maret–30 April 2026, sedangkan gelombang kedua pada 4 Juni–21 Juli 2026. Masing-masing gelombang akan diikuti oleh 16 peserta.
“Jika pendaftar lebih dari 32 orang, akan dilakukan seleksi dengan prioritas bagi masyarakat kurang mampu. Namun jika pendaftar 32 orang atau kurang, sepanjang memenuhi syarat akan kami terima semua,” tambahnya.
Instruktur pelatihan bahasa Jepang akan didatangkan dari Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) swasta yang berpengalaman. Kurikulum yang digunakan mengacu pada standar LPK, dan peserta yang lulus akan memperoleh sertifikat sebagai bekal penempatan kerja.
Untuk pelatihan yang bersumber dari APBN, Disnaker Buleleng masih menunggu petunjuk teknis dari kementerian. Informasi sementara, terdapat lima jenis pelatihan yang akan dibuka, yakni perawatan AC rumah tangga, menjahit pakaian wanita, komputer, instalasi listrik, dan spa terapis, dengan total peserta sebanyak 80 orang.
Putu Arimbawa pun mengajak masyarakat Buleleng, khususnya para pencari kerja, untuk memanfaatkan peluang ini. “Pemerintah hadir untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Keterampilan bahasa Jepang ini akan sangat bermanfaat dalam merebut peluang kerja, baik di dalam maupun luar negeri, khususnya di Jepang,” pungkasnya. @gus










