Disampaikan, kerusakan yang terjadi di jalur sepanjang kurang lebih 1 km itu, sudah lebih dari enam bulan terakhir. Penyebabnya, diduga karena kualitas pengerjaannya yang rendah. “Pengerjaannya kalau tidak salah pas ketika Gunung Agung meletus. Bahan hotmik yang digunakan saat itu berupa batu apung. Tidak menggunakan pecahan. Sehingga kualitasnya tidak begitu bagus,” beber Komang Carles.
Karena itu, lanjut dia, ruas jalan tersebut hanya bertahan sekitar setahun setelah dikerjakan. “Karena kualitasnya yang memang kurang bagus, setelah satu tahun pengerjaanya langsung rusak,” jelasnya. Tindak lanjut dari itu, pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan Mandor pengawas jalan Propinsi tersebut. Hanya saja, karena yang bersangkutan telah pindah tugas sehingga komunikasinya tidak berlanjut. Meski demikian, pihaknya juga mengaku sudah melaporkan kerusakan tersebut ke Dinas PU Kabupaten Bangli untuk dibantu memfasilitasi ke Dinas PU Propinsi Bali agar segera diperbaiki. “Dari dua bulan lalu sudah saya koordinasikan juga melalui Dinas PU Bangli, tapi hasilnya masih gabeng. Padahal harapan masyarakat kami, tentunya kerusakan jalan tersebut segera bisa diperbaiki,” tegasnya.
Menurut anggaran perbaikan bisa diambilkan dari dana pemeliharaan jalan Propinsi Bali. “Rasanya kalau mau serius, tidak perlu waktu lama untuk perbaikannya. Terlebih biasanya, selama ini kerusakan jalan Propinsi di Kabupaten Bangli sangat cepat penangannya. Sekarang entah kenapa agak terlambat, kemungkinan karena kurang komunikasi saja,” pungkasnya sembari Kembali berharap dinas terkait segera turun untuk mempercepat melakukan perbaikan ruas jalan tersebut. (arw)










