I Gede Ari Nesa Wijaya bersama keluarga kecilnya.
Melanjutkan dan mempertahankan, menurut Tu De, jauh lebih menantang dari pada memulai. Sehingga dalam kepemimpinannya ke depan, pertama yang dilakukan adalah evaluasi.
"Apa-apa yang sudah bagus dari kepemimpinan sebelumnya tentu kita lanjutkan. Dan kekurangannya kita perbaiki," imbuhnya.
Ia pun berterima kasih kepada semua pihak yang telah memercayakan dirinya sebagai Kepala Skarisba. "Mari kita berkolaborasi menjaga eksistensi sekolah yang kita cintai ini," ajaknya.
Lebih lanjut, Tu De mengaku, berkecimpung di dunia pendidikan adalah panggilan hati untuk meneruskan cita-cita luhur orangtuanya membantu mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya bagi anak-anak dari lingkungan sekitar.
Komitmen tersebut merupakan bentuk lain dari sisi kepahlawanan yang diwarisi dari sang kakek. "Bentuk perjuangan pascakemerdekaan tentu tidak lagi berperang melawan penjajah, melainkan menumpas kebodohan dengan memfasilitasi pendidikan bagi anak-anak bangsa," tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Putra Wijaya menganggap Tu De sudah pantas menggantikan dirinya yang sudah "kepala enam". Dari sisi kemampuan, putra sulungnya itu juga disebut layak karena telah berpengalaman memimpin sejumlah organisasi di skub komunitasnya.
Sebagai anak muda yang sedang energik, tentu Putra Wijaya berharap Skarisba semakin maju, berkembang dan menjadi pilihan utama masyarakat. Apalagi Tu De dikenal pandai bergaul serta punya jaringan luas.
"Saya sudah 32 tahun memimpin, bahkan mulai dari merintis. Dari tidak punya gedung, pinjam SD sana-sini, hingga jadilah sampai sekarang. Bangunan megah, lengkap dengan hotel," kenangnya.











