Menurut Sutjidra, stunting yang notabene gangguan gizi kronis pada balita ini, bisa dicegah sejak dini dari dalam kandungan. "Untuk itu saya berharap kalau bisa pesertanya ibu-ibu produktif karena masalah ini sangat penting," kata Sutjidra.
Ia pun mengaku siap mengabdikan ilmunya kepada warga Buleleng untuk konsultasi soal kandungan. Hal ini sebagai wujud bakti kepada bangsa dan kontribusi bergotong royong mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Nihilnya kasus stunting di Desa Tukadmungga diapresiasi Anggota Komisi IX DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana. Kariyasa menyebut, Tukadmungga layak dicontoh desa lain yang prevalensi stuntingnya masih tinggi.
Melihat potensi sumber pangan yang melimpah, menurut Kariasa, semestinya stunting bisa dicegah lewat asupan gizi saat hamil. Selain itu, faktor pernikahan anak di bawah 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun laki-laki perlu menjadi perhatian khusus.
"Kalau perempuan di bawah 21 tahun, organ reproduksinya belum siap. Juga menyangkut mental. Sedangkan laki-laki idealnya minimal 25 tahun. Ini harus jadi perhatian serius kita bersama," jelas politisi PDI Perjuangan asal Busungbiu, Buleleng, itu.

Bali, lanjut Kariyasa, yang bergantung dari sektor pariwisata dituntut memiliki sumber daya manusia berkualitas. Bila banyak warganya yang stunting atau sakit-sakitan, maka akan menjadi isu negatif di bidang kesehatan. Wisatawan tidak akan mau berkunjung.
Bukti pentingnya penanganan stunting di Indonesia dibuktikan dengan diterbitkannya Perpres 72/2021. Semua pihak diajak bergotong royong meraih target setidaknya 14 persen stunting pada 2024 secara nasional. Meski Bali berhasil menduduki posisi stunting terendah 8 persen, namun upaya pemerataan tiap kabupaten/kota perlu dilakukan. rl










