
Ketua DPD Partai Demokrat Bali Made Mudarta
DENPASAR-sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com
Pengumuman nama Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar sebagak Calon Wakil Presiden (Cawapres) mendampingi Calon Presiden (Capres) Anies Rasyid Baswedan mendapat pertentangan dari Partai Demokrat yang notabene anggota Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP). Pasalnya, Demokrat mengklaim bahwa sebelumnya sudah disepakati bahwa Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang akan diplot.
Tak ayal, keputusan cawapres yang diinisiasi oleh Partai NasDem tersebut dianggap sepihak. Dan bahkan, Demokrat mengaku seakan dipaksa untuk menyetujui Duet Anies-Cak Imin. Adanya 'kawin paksa' itu memunculkan respon dari Partai Demokrat di daerah.
Di Bali misalnya, Ketua DPD Partai Demokrat Bali, Made Mudarta menyatakan, pengumuman nama Cawapres yang dilakukan oleh Partai NasDem diluar dugaan Partai Demokrat dan KPP. "Ya inikan memang dinamika diluar dugaan dan diluar kesepakatan. Sesungguhnya para elitnya harus memberikan teladan dan contoh menjaga etika apa yang telah disepakati," ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu (03/09).
Mudarta mengatakan, dengan adanya 'pengkhianatan' tersebut, Partai Demokrat lebih memilih menarik diri dari koalisi. "Demokrat memilih chek out dari KPP," tegasnya.
Sikap yang dilakukan oleh Partai NasDem dengan mengumumkan nama Cawapres Anies Baswedan secara sepihak memberikan hikmah bagi Demokrat. Yakni sejak awal tahu dengan karakter di dalam koalisi yang telah dibentuk. Sehingga, Partai Demokrat bisa mengambil pelajaran dan berfikir kembali untuk mengalihkan dukungan.










