Penguatan ekosistem karbon berbasis pemberdayaan masyarakat ini mendapat apresiasi langsung dari Pemerintah Provinsi Bali. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan perdagangan karbon yang memiliki integritas dan kualitas tinggi (high integrity and high quality). Menurutnya, potensi kehutanan dan lingkungan Bali harus dikelola dengan tata kelola yang kuat agar manfaatnya dirasakan langsung oleh warga.
“Bagi Bali, penguatan ekosistem karbon juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat program pelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Saya sendiri terus mendorong berbagai program yang berkaitan dengan karbon dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan,” ucap Wayan Koster.
Gubernur Koster secara khusus mengapresiasi kontribusi Coop Coffee dalam membina petani di Kintamani. Mengingat besarnya dampak positif pupuk hasil olahan limbah (organik) terhadap tanaman, ia mendorong agar praktik budi daya organik ini ditiru oleh seluruh sektor perkebunan kopi di Bali. “Saya mau semua petani kopi menggunakan pupuk organik,” tegasnya saat meninjau booth kopi petani Desa Catur.
Sementara itu, Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation, Sascha Poespo, menjelaskan pentingnya keterlibatan perempuan petani sebagai aktor utama. Mereka tidak lagi diposisikan sebagai penerima manfaat pasif, melainkan dilatih menguasai aspek teknis Measurement, Reporting, and Verification (MRV) berbasis perangkat digital.
“Perempuan didorong untuk terlibat langsung dalam proses yang selama ini dianggap sangat teknis, termasuk MRV. Peran tersebut dapat dimulai dari tingkat paling dasar yakni memahami apa yang sedang diukur di kebun mereka, melakukan pengamatan dan pencatatan kondisi lahan, mengumpulkan informasi melalui perangkat digital, mengenali perubahan praktik pertanian, hingga memahami bagaimana data tersebut digunakan untuk melihat perkembangan karbon, biodiversitas, dan produktivitas,” tutup Sascha. (M-001)










