"Isu ini relevan karena pandemi COVID-19 telah menunjukkan kerentanan institusi budaya, sementara percepatan teknologi juga menyoroti kesenjangan digital yang masih ada," ucap Menteri Fadli Zon.
Isu ketiga adalah peran budaya sebagai mesin penggerak ekonomi melalui Cultural and Creative Industries (CCIs) dan generasi muda. Sektor ini bernilai sekitar $4,3 triliun, menyediakan lebih dari 30 juta lapangan kerja, dan menjadi motor bagi UMKM serta kreativitas generasi muda. Para delegasi menyadari bahwa pengembangan sektor ini tidak hanya membutuhkan infrastruktur, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan kapasitas. Terakhir, isu perlindungan budaya dalam situasi konflik menjadi perhatian serius.
Menteri Dalam Negeri dan Warisan Budaya Zimbabwe, Kazembe Raymond Kazembe, menegaskan bahwa budaya adalah sumber kohesi sosial dan ketangguhan, dan penting untuk memetakan kondisi krisis serta konflik bersama-sama. Sementara itu, Menteri Kebudayaan Palestina, Imadeddin A.S. Hamdan Fawzyah, berbagi pengalaman pahit tentang dampak perang yang menghancurkan sejarah dan identitas nasional, menekankan pentingnya program pelestarian budaya meskipun berada dalam kondisi sulit.
Dalam sesi diskusi, para delegasi dari berbagai negara, termasuk Zimbabwe, Palestina, Syria, Singapura, dan banyak lainnya, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Indonesia. Mereka sepakat bahwa budaya adalah jembatan diplomasi antarbangsa, serta jalan utama untuk membangun dunia yang lebih adil dan manusiawi.










