“Desa Gadungan boleh maju, tapi dengan kemajuan Desa Gadungan ini, jangan sampai menggerus akar adat dan budaya kita. Di Bali ini yang paling utama adalah agama leluhur, jangan lupakan para leluhur dan baktilah kepada leluhur. Semoga semua rangkaian karya di Pura Maspahit ini berjalan lancar sampai nanti Puncak karya hingga penyineban. Dengan telah dilaksanakan karya ini, semoga para pengempon pura juga segilik saguluk, saluung-luung lan sebayantaka, mencapai gemah ripah loh jinawih dan tata tentram kertha raharja,” ujar Bupati Giri Prasta.
Ketua panitia I Wayan Sudarma dalam laporannya menyampaikan bahwa pembangunan restorasi Pura Maspahit ini sudah dimulai sejak tahun 2015, dimulai dengan mengumpulkan dana dari 135 KK pengempon pura ini. Dijelaskan pula bahwa pengempon pura ini tidak hanya dari Desa Gadungan saja, ada dari Desa Kerambitan, Desa Gunung Salak, Desa Baha dan dari Kabupaten Jembrana.
“Dengan kekurangan dana yang kami miliki, maka para pengempon urunan Rp. 4 juta per KK, hingga terkumpul dana Rp. 500 juta untuk restorasi Pura ini, yang dicicil dengan jangka waktu 3 tahun. Setelah selesai pembangunan, rencananya kami akan melaksanakan upacara karya, namun terkendala dengan adanya Pandemi Covid-19, yang membuat kami menunda rencana untuk melaksanakan Karya ini dan pembangunan pura ini juga tertunda,” jelasnya.
Lebih lanjut Wayan Sudarma menjelaskan baru pada tahun 2022 kembali para Kelian dan pengempon melanjutkan pembangunan restorasi pura ini. Akibat tertundanya pembangunan tersebut membuat para pengempon terus mengaturkan banten/upakara Guru Bendu Piduka, di setiap piodalan di Pura ini.










