Pj. Perbekel Desa Bongkasa, I Made Sukarada, memaknai tema Patitis Atma Kerthi Pinaka Udiana Purwananing Jiwa sebagai ajakan merawat bahasa Bali sebagai bagian dari getaran jiwa. Menurutnya, bahasa dan seni Bali tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga membangun kesempurnaan batin.
“Aksara Bali memiliki nilai seni yang tinggi. Ketika kita memahaminya, jiwa kita ikut diperkaya,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam pelestarian adat dan budaya, sejalan dengan kebijakan penggunaan bahasa Bali dan busana adat setiap Kamis. “Bahasa dan busana adat bukan sekadar simbol, melainkan cara menjaga identitas agar tidak tergerus zaman,” katanya.
Sebagai penguatan, Sukarada menegaskan bahwa pengangkatan materi dharma suaka dan dharma gita pada tingkat remaja, khususnya Sekaa Teruna Truni (STT), memiliki relevansi strategis dalam upaya pelestarian bahasa dan sastra Bali.
Menurut dia, generasi muda merupakan mata rantai utama dalam estafet pelestarian seni, adat, budaya, bahasa, dan sastra Bali. Karena itu, pembekalan nilai-nilai dharma sejak dini dinilai penting agar para remaja tidak hanya memahami aspek linguistik, tetapi juga mampu menghayati dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Apresiasi turut disampaikan Camat Abiansemal, Ida Bagus Putu Mas Arimbawa. Ia menilai mengangkat lomba vlog berbahasa Bali bertema penanganan sampah berbasis sumber menunjukkan kepekaan Desa Bongkasa dalam membaca isu aktual.
“Pendekatannya kontekstual dan berbeda dibanding pelaksanaan di desa lain. Ini selaras dengan persoalan lingkungan yang kita hadapi saat ini,” ujarnya.










