"Menurut saya, apa yang telah disampaikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta mampu diterapkan di Indonesia, maka secara perlahan akan membantu membangkitkan gairah perekonomian nasional yang sempat terpuruk akibat dampak pandemi Covid-19 selama 2 tahun. Dengan berwisata di dalam negeri, tak hanya mencegah penularan Omicron, namun juga akan berdampak positif terhadap okupansi hotel maupun villa. Kalau dilihat, saat ini pertumbuhan ekonomi di Bali khususnya sudah mulai membaik dengan tingginya minat wisatawan yang berkunjung ke Pulau Dewata. Namun perlu diingat, penerapan protokol kesehatan yang ketat dan penggunaan aplikasi PeduliLindungi harus tetap dilakukan dengan maksimal," ungkapnya, Rabu (19/1).
Senawati menambahkan, dengan adanya wacana dari pemerintah bahwa Bali sebagai tempat karantina untuk wisatawan asing, hal tersebut menurutnya sah-sah saja, apalagi sebagian besar akomodasi perhotelan di Bali sudah sangat siap untuk menerima kunjungan internasional dengan protokol kesehatan CHSE. Ia menuturkan, segala kesiapan akomodasi pariwisata dalam menerima kunjungan wisatawan asing sudah tak perlu di ragukan lagi. Dari sarana prasarana pendukung protokol kesehatan yang lengkap, bahkan karyawan pun telah menjalani vaksinasi Covid-19 yang lengkap.
"Kita tentu berharap, wisatawan domestik (wisdom) tetap memilih berwisata di dalam negeri saja. Meski kita sadari, kunjungan wisdom tidak sepenuhnya bisa menutupi target kunjungan sebelum adanya pandemi. Namun, setidaknya pergerakan ekonomi dan geliat pariwisata sudah kembali pulih. Selain itu, peran penting pemerintah daerah dan stakeholder lainnya juga harus saling bersinergi untuk mendorong pertumbuhan UMKM lokal Bali. Sehingga geliat antara pariwisata dan UMKM dapat tumbuh bersama-sama," pungkasnya. (dha)










