"Semua bantuan kapal asing merupakan kewenangan Asintel untuk clearence izin operasi dipercepat untuk mempercepat proses pencarian karena waktu yang kami kejar," terangnya.
Sementara itu, Tim TNI AL melanjutkan pencaharian pada Kamis (22/4/2021), dan diinformasikan oleh KRI Rimau adanya satu titik kemagnet yang kuat sedang dikejar oleh tim pencari. Sedangkan, KRI Rigel persisnya berada dekat dengan lokasi, dan pada siang hari bisa merapat.
"Sehingga dapat langsung establishe/membangun dan merencanakan pencarian lebih detail. Diharapkan tidak berubah dan dikejar sekarang, semoga menjadi titik terang," bebernya.
Dijelaskan Mayjend Achmad, yang diutamakan saat ini adalah kapal yang memiliki kemampuan membaca sonar. Sebab, keberadaan dan kondisi KRI Nanggala yang hilang dan benar-benar senyap sehingga sonar paling berpeluang bisa memastikan keberadaannya.
"Penyisiran yang dilakukan masih berkisar di titik/area hilang kontak sekitar 60 mil utara laut Bali dan area beberapa temuan. Namun banyak kemungkinan terjadi seperti Kasel dibawa arus laut ketika mengapung," bebernya.
Sementara ditanya soal tindakan jika KRI Nanggala 402 belum ditemukan sampai batas waktu ketahanan oksigen 72 jam yang berakhir Sabtu (24/4/2021), pihaknya belum bisa memberikan penjelasan dan tidak ingin berspekulasi. "Kami akan maksimalkan pencarian hari ini, yang terpenting kami terus berusaha," tegasnya.
Disampaikannya, saat Kepala Staff Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono telah berada di KRI Soeharso. Kemudian, pada siang hari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyusul untuk memantau proses pencarian.










